Air Mata

Posted on February 27, 2011

0



Pernikahanku dengan Agus tak berlangsung lama. Hanya seumur jagung. Tanggal 1 Agustus 2010 aku menikah. Dan, sebulan kemudian tanggal 1 September 2010 aku bercerai darinya. Aku tak menyesal pada keadaan. Aku pun tak menyalahkan keputusannya untuk menceraikanku. Tak sepantasnya mutiara seperti dia mendapatkan sampah.

Aku melihatnya meneteskan air mata pasca malam pertama. Aku sangat tahu alasannya. Dan aku sangat hargai air mata itu. Air mata yang pantas keluar oleh sebab ketidakterbukaanku padanya. Secara terus terang aku telan kepahitan itu.

Seorang Mika. Hmm..Ya, seorang gadis yang kini menginjak usia 21 tahun. Seorang remaja yang sudah cukup pengalaman. Terutama dalam hal berhubungan dengan lawan jenis. Ya. Aku yang remaja. Dan aku yang muda. Boleh jadi saat itu aku adalah mesin sex. Dalam soal berganti-ganti pasangan aku lah jagonya. Sudah empat orang lelaki yang sudah kutiduri. Nominal itu yang setidaknya mampu kuingat dan intensitasnya paling tinggi. Dan entah berapa lelaki lagi yang hanya sekali kuajak tidur.

Kebiasaanku seperti itu dipengaruhi oleh keadaan keluargaku yang carut marut. Orang tuaku yang jarang di rumah menyebabkan aku mencari kasih sayang di luar. Clubbing, keluar malam, pulang pagi, mabuk-mabukan, sempat mencoba drugs, gonta-ganti pasangan telah menjadi rutinitasku, hingga mengeluarkan paksa janin yang tak berdosa hasil keisenganku. Benar-benar pencapaian yang luar biasa kelamnya. Sekali lagi, aku tak menyalahkan keadaan karena itulah pilihan terbaik menurutku.

Adalah Reva dan Ola kedua teman dekatku satu kesukaan. Entah siapa yang duluan memulai, tapi yang jelas kita sama-sama sepakat untuk memilih jalan itu. Kita sangat dekat atas nama dunia malam muda-mudi ibukota. Dan, kita adalah lingkaran setan.

Dunia kampus yang selalu menyediakan kebebasan kian membuka jalan ke arah dunia hitam. Dunia yang penuh kemunafikan hidup. Dunia intelektualitas kebohongan diri. Dunia yang telah menyulapku menjadi seperti kini. Menjadi seorang manusia yang telah mencoba semua kemanisan fana duniawi.

Kini aku tengah menikmati racun dari perbuatanku silam. Kepada perempuan seusiaku lainnya, aku cuma berpesan, “jangan sampai ada air mata yang menetes dari mata lelaki yang mendampingimu kelak”.