Perang (End Story)

Posted on February 24, 2011

0



Eva sayangku,


Beberapa minggu lagi Natal tiba. Natal kali ini aku tak di sampingmu sayang. Tapi sudahlah. Semuanya telah terjadi, dan semuanya pun pasti akan berlalu. Tetaplah membuat kejutan Natal. Buatlah kue-kue yang selalu kamu buat saat Natal. Masih ada uang untuk membeli bahan-bahan itu? Aku harap masih ada sisa. O iya, ambillah uang di bank dan belilah kado special untukku. Aku pasti tidak berada di sana saat Natal. Namun, tak apalah kau beli kado spesial untukku. Walau hanya sebatas simbol tapi itu buatku berarti dan menjadikanku sedikit tenang. Kalo tidak ada uang, bolehlah kamu pinjam dulu ke keluarga Victor. Ia adalah keluarga berada di lingkungannya. Aku kenal baik dengannya. Jadi aku pikir tidak ada salahnya kamu pinjam kepadanya dulu.

Di Satalingrad bertanya tentang keberadaan Tuhan berarti sama saja mengingkari keberadaan-Nya. Bagaimana mungkin Tuhan ada ketika masih ada kelaparan. Masih ada yang mati kemarin. Masih ada perang. Tuhan hanya ada dalam puji-pujian dan setiap doa yang terucap dari mulut para pastor. Tentu tidak di sini, di Stalingrad. Aku seorang yang belajar kemiliteran di Jűterborg ragu akan hal itu. Yang sekarang tergabung dalam OKW “Oberkommando der Wehrmacht”, (Komando Tertinggi Angkatan Bersenjata).

Stalingrad adalah suatu judi politik, dan bukan keputusan militer. Ini adalah pertempuran tolol yang hanya satu arah. Mereka menyerang kami, bukan kami yang menyerang mereka.

Sebagai seorang prajurit kavileri yang pemberani, dan juga sebagai seorang Herr! Aku yakinkan diriku bahwa aku tidak takut pada kematian. Kemanapun aku pergi selalu aku bawa brustbeutel-ku (kantong kulit kecil yang diikatkan dengan tali di sekitar leher) untuk menyimpan tulisan-tulisanku sebelum sampai di tanganmu. Aku adalah satu dari 200 ribu serdadu terbaik Jerman yang dikirim. Namun di Stalingrad semuanya berubah. Aku sama saja dengan seekor tikus yang dikepung ratusan kucing bengis yang siap menerkam. Menguasai Stalingrad adalah suatu prestise dan hadiah spesial bagi seorang Hitler. Bukan buatku atau yang lainnya. Sebab kami tetaplah menderita di bawah sini.

Saat kamu menerima surat ini, aku pasti telah berada di alam dan dimensi lain. Aku hanya bisa mengirimimu senyum dan bayangan saat kamu membacanya. Bacalah dengan mesra seperti saat kamu memelukku musim semi sepuluh tahun lalu. Yakinilah bahwa aku berjuang untuk Negeriku tercinta, Jerman. Walaupun aku belum sepenuhnya yakin bahwa perjuanganku dan pengorbananku benar untuk itu. Aku merasa semuanya ini konyol.

Maaf sayang, aku terlalu panjang dalam mengurai kata. Bukan kebiasaanku seperti ini—kau pun tahu itu. Mungkin karena ini yang terakhir yang dapat aku berikan kepadamu, sayangku.

Sebentar lagi pesawat yang akan membawa suratku akan tiba. Aku sudahi dulu pertemuan kita kali ini, dan mungkin untuk selamanya. Selamat tinggal sayang. Terima kasih atas kasih sayangmu kepadaku. Semuanya akan berlalu. Tapi tidak bagi cinta kita yang akan tetap kekal sayang. Senyum dan uluran tanganmu membantuku untuk menyeberang jembatan akhir kehidupan ini.

 

Diinspirasi dari Perang Barbarossa Jerman Rusia pada Musim Panas tahun 1941.

Posted in: Short Story