Perang (Part. 2)

Posted on February 22, 2011

0



Eva sayang,

Aku ingin berbagi cerita denganmu sayang. Telah banyak yang aku alami di sini, selama 10 tahun. Aku juga ingin berbagi tentang siapa aku dan darimana aku. Tentu belum banyak yang aku ceritakan kepadamu dulu. Pertemuan singkat kita yang hanya dua bulan tak akan cukup untuk saling berbagi dan mengenal. Belum lagi dengan kurangnya intensitas kita untuk ngobrol. Barangkali karena kamu terlalu indah buatku, sehingga bibir dan lidah ini terasa kelu jika akan memulai berbicara di depanmu. Dan sekarang, mumpung aku dapat berkirim surat kepadamu aku akan ceritakan pengalamanku di sini. Semoga kamu mengerti sayangku.

Aku mulai dengan kabar yang agak gembira. Hari ini Beethoven tengah konser di Stalingrad. Ia adalah seniman favoritku. Setiap konser yang diadakanya di Jerman pasti aku tonton. Aku selalu menjadi yang terdepan ketika dia tengah menunjukkan kepiawaiannya dalam bermusik. Namun, sekarang aku tidak tertarik. Bukan sebab aku sudah tidak menggemarinya lagi. Tapi karena di sini segalanya menjadi begitu menakutkan. Semua yang kutemui adalah hantu. Mahluk yang harus aku bantai habis.

Aku menjadi begitu tolol. Mau-maunya aku menuruti perintah orang gila yang memimpin bangsaku. Orang yang dielu-elukan dan di panggil Fuehrer itu tak lebih daari orang gila yang berpakian dan berdandan rapi. Hitler telah meninggalkan kami semua di tengah padang kematian. Tidak ada secuilpun pembelaan dan perlindungan darinya. Bangsat!

Kami dipaksa untuk menelan pil kebodohan dan ketololan seorang Hitler. Bagaimana tidak. Untuk kelaparan, kedinginan, hingga untuk mati pun adalah sepenuhnya perintahnya. Aku tidak tahu kenapa orang-orang begitu mengelu-elukan dirinya—walau aku dulu sempat seperti itu. Sebagai sesosok pemimpin besar. Padahal ia tak lebih dari iblis keparat. Ah, menembakkan peluru lebih baik menurutku daripada hanya menembakkan omong kosong dan bualan belaka.

Ia mencekoki orang-orang dengan retorika busuknya. Entah kenapa kata-kata itu begitu menyihir khalayak. Belum lagi ketika kami diharuskan menonton film “Geier-Walli” yang diputar di Dresden dan Hanover, sebuah film busuk yang hanya berisi propaganda belaka. Sebuah kebohongan dan penuh omong kosong lebih tepatnya.

Pepatah pernah bilang, selalu ada jalan menuju Roma. Namun, aku yakin dengan keyakinan yang sejati bahwa tidak ada jalan keluar dari Stalingrad! Aku meyakininya sepenuhnya. Hanya ada satu jalan di sini. Jalan menuju kematian.

Pagi tadi ada yang mati lagi. Sersan Berger, seorang tentara yang dahulu gagah pemberani, pun begitu aku kagumi sekarang terkulai tak berdaya. Tubuhnya melenguh lunglai diselimuti salju. Dadanya tertembus peluru Tentara Merah Rusia. Darahnya beku seketika. Anggota tubuhnya masih utuh, berbeda dengan kebanyakan yang mati sebelumnya. “Ia masih beruntung”, gerutuku dalam hati. Mungkin karena ia masti dengan anggota tubuh yang masih lengkap. “Ah, tapi sama saja. Ia tetap mati, tak bernyawa”, lanjutku kemudian. Hancur atau utuh ia tetaplah mayat sekarang.

Kematian bukanlah hal yang asing di sini. Satu persatu berjatuhan bagai nyamuk-nyamuk. Bergeletakan di mana-mana. Buntung tanpa tangan atau kaki. Tubuh tanpa kepala. Isi perut yang terburai keluar dengan rongga yang menganga. Tak ada yang peduli untuk menguburkannya. Kematian yang hanya cocok untuk seorang Hitler, seorang gila yang gila perang. Aku pun tinggal menunggu giliran. Berharap cemas kapan saatku tiba. Nasib kematianku juga taka akan jauh berbeda dengan yang lainnya pasti.

Dalam hidupku baru kali ini aku merasakan keputusasaan yang begitu menjadi. Aku menemukan diriku menjadi begitu putus asa kini. Tidak ada lagi keyakinan dan keoptimisan yang mau hinggap dalam hati dan pikiranku. Mereka menjauhiku dan perlahan meninggalkanku. Mereka pergi meninggalkanku dan kalah oleh kebengisan Stalingrad. Semuanya menjadi buruk. Dan ketika sudah seperti itu, kata-kata pun tak akan sanggup merubahnya menjadi lebih baik. Secercah cahaya kehidupan telah raib. Hanya dingin, lapar, sedih, ragu, dan putus asa lah yang sekarang menjadi teman-teman sejatiku.

Sekarang aku sepenuhnya yakin bahwa yang hidup pasti akan mati. Setidaknya ada hal yang aku percayai daripada tidak ada sama sekali. Paling tidak ada hal yang dapat menenangkanku sejenak dari bengisnya dingin dan kejinya rasa lapar. Selain juga kedamaian dan ketenangan saat melamunkanmu sayang.

Aku masih tetap bersyukur dengan keadaanku sekarang. Bersyukur jika dibandingkan dengan kawan-kawanku yang lain. Kami sekarang berada di tepi Sungai Volga. Setidaknya sedikit lebih tenang dibandingkan dengan mereka yang berada di stepa. Mereka tidak sebaik keadaan kami kini.

Aku memikirkanmu dan memikirkan ayah ibuku di rumah. Tapi apakah kamu dan mereka juga memikirkanku? Entahlah. Aku tak peduli. Paling tidak di dalam 24 jam waktuku kini, aku ada kerjaan yang dapat menenangkanku walau sejenak. Sebab melamun dapat meningkatkan otak seseorang untuk bekerja lebih kreatif dan produktif.

Musim dingin kembali menjelang, perlahan namun pasti menusuk seluruh pori-pori kulitku, tanpa seinci pun ruang yang hangat di tubuhku. Dedaunan memerah, menguning, dan terjatuh berguguran ke tanah.

Tentara Merah terus menerobos ke garis depan. Sebentar lagi mereka sampai dan habislah kami semua. Mereka tahan terhadap dingin. Mereka jutaan kali lebih kuat daripada kami. Mereka sungguh orang-orang terlatih. Tragedi di Stalingrad adalah juga bencana di tanah Jerman. Ini semua adalah efek dari kegilaan kepemimpinan dari seorang pemimpin yang gila. Aku sadar bahwa ini adalah karma bagi Jerman yang dahulu begitu antagonis. Langit di Stalingrad selalu dihiasi dengan pijar salvo roket dan kilat cahaya meriam. Tembakan senjata hampir sebanyak 200 pucuk perkilometer.

Aku ingin cepat-cepat tertidur. Sebab menurutku, tidur adalah satu-satunya obat penawar rasa lapar. Berharap setelah bangun nanti perutku tak lagi merasakan lapar yang menggigit. Terkadang juga aku takut tidur. Bukan karena aku pengidap insomnia. Ini lebih kepada ketakutan akan maut yang selalu mengintai. Aku takut aku tidak akan bangun kembali dan menyaksikan hari esok ketika aku tertidur. Aku menjadi begitu pengecut.

Tak ada bahan makanan di sini. Tak ada minuman pula. Aku hanya memakan gumpalan salju yang miskin protein dan sedikit ham dan meatjelly. Tubuhku kian hari kian menyusut. Pipiku tak lagi kencang, perlahan cekung mirip cekungan sendok. Mataku tampak menonjol dari rongganya. Dan, dahi yang sedikit melorot. Padahal usiaku baru genap 37 tahun 30 Desember nanti. Kamu pasti ingat itu—hari ulang tahunku. Tiap pagi menjelang, kerjaanku adalah mengencangkan ikat pinggang. Satu pagi naik satu lubang di ikat pinggangku. Pinggangku semakin mengecil. Itu juga salah satu caraku untuk menahan rasa lapar tentunya. Berat badanku kini hanya tinggal sepertiga berat badan normalku.

 

bersambung…

Posted in: Short Story