Perang

Posted on February 20, 2011

0



Aku terbang kepadamu membawa cinta, sayangku.

Aku masih ingat Natal yang lalu. Natal yang kita rayakan bersama. Kamu memasak kue khas Jerman. Dan aku pun melahapnya hingga tak tersisa secuil pun. Kita mengarungi malam salju itu dengan kemesraan. Kamu membelaiku dengan sejuta kasih sayang. Aku pun begitu kepadamu. Salju nan beku berubah menjadi kehangatan tiada tara malam itu. Kita berdua memandangi langit yang bertaburan bintang. Asyik bermain teleskop yang baru aku beli menjelang Natal. Dan, yang lebih membahagiakanku, keberadaan kamu di sisiku. Aku ingin mengulangi saat-saat itu sekarang. Suatu malam 10 tahun silam.

Kamu adalah segalanya bagiku, Eva. Mutiara di tengah samudera luas menghampar. Air penghilang haus di tengah dahaga yang melanda. Selimut di tengah lautan salju. Kamu adalah lautan imajiku.

Saat kamu membaca surat ini entah aku masih ada di dunia ini atau tidak. Sebab perlu waktu tiga minggu surat ini bisa mencapaimu. Kamu pasti mengerti keadaan di sini. Keadaan di mana hampir tidak ada suatu kepastian yang hadir. Aku bisa mati esok, satu jam kemudian, bahkan sedetik setelah aku menuliskan surat ini. Semuanya serba mungkin pada saat-saat seperti ini.

Aku tidak ingin bercanda dalam surat ini. Sebab terlalu sayang aku lewatkan kata-kata dalam surat ini untuk sekadar berlelucon. Aku ingin berbicara dengan hati kepadamu, lewat tulisan ini. Karena aku sendiri tidak yakin apakah dapat bertemu denganmu lagi nanti. Aku begitu pesimis sekarang. Berbeda dengan aku, Hans, yang dulu begitu optimis dan yakin dalam mengarungi bahtera hidup bersamamu. Sekarang, aku menjadi seperti ini karena kamu tak disampingku lagi. Dan, mungkin untuk selamanya.

Aku berpikir seolah-olah hidup hanya dalam hitungan detik lagi. Aku di sini bersama keempat kawanku. Berlima di pojokan kota sialan ini. Kota yang dikelilingi aroma kematian. Tugasku adalah membunuh. Ya, membunuh siapa saja yang lewat mendekatiku. Aku tidak peduli apakah ia kawan atau lawan. Karena di sini antara kawan dan lawan sama saja. Barangkali pikiran dan jiwa ini telah diselimuti oleh ketakutan yang begitu merajai. Ketakutan yang hampir-hampir tak masuk akal menurutku sendiri.

Eva, apalah arti hidupku kini jika dibandingkan dengan langit berbintang berusia jutaan tahun. Andromeda dan Pegasus berada di atas kepalaku malam ini. Keduanya menjadi sedikit penghangat malam dinginku kali ini. Mereka indah. Aku memamandangnya lekat-lekat. Seperti tak ingin lepas dari memandangnya. Kedua bola mataku seakan tersandera, sama seperti ketika aku memandangimu, Eva. Kamu tak beda dengannya dalam soal cinta. Selalu diliputi oleh keindahan dan kesejukan bak embun pagi. Aku merasa sebentar lagi, mungkin dalam hitungan jari, aku dekat dengannya. Dekat denganmu.

Aku sangat berhutang kepada keduanya. Berhutang kedamaian dan secercah keindahan. Dan, kamulah yang tetap menjadi keindahan dan keanggunan di antara lautan bintang malam ini. Keduanya kekal di kejauahan sana. Berbeda dengan aku yang seperti bulir debu di alam raya ini.

Di sekelilingku hanya ada mayat-mayat yang tak terurus. Mereka yang masih hidup semakin kurus. Menunggu peluru yang sebentar lagi pasti menembus. Angin kehampaan begitu kencang berhembus. Membawa serta keyakinanku untuk tetap hidup terus. Semuanya terhapus dan tergerus.

Pagi, siang, ataupun malam di sini tak ada beda. Setiap detik diisi dengan desingan peluru dan letupan mortir. Begitu mengganggu layaknya suara nyamuk yang setiap malam mengganggu tidurku. Salju di sini berwarna merah, tidak seperti di tempat kita, Berlin. Warna salju yang baru aku lihat tentunya.

Untung. Aku masih menyimpan fotomu di dalam dompet kumalku. Foto yang sepuluh tahun lalu aku ambil secara diam-diam dari kamarmu. Kamu saat itu tak menyadarinya, kalau foto yang kamu lihat saat membuka dompetku itu aku ambil tanpa bilang kepadamu sebelumnya. Namun, pasti kamu akan ikhlas walaupun aku mengambilnya tanpa sepengetahuanmu. Toh, kamu tetap ikhlas saat kamu tahu bahwa hatimu telah kurampas dulu.

Kupandangi fotomu. Tetap mata ini tak beranjak dari senyummu yang tersungging dari mulut kecilmu. Kupandangi lama-lama. Tak perduli di luar sana suara desingan peluru dan erangan orang-orang yang meregang nyawa begitu mengganggu pendengaranku.

Sesaat aku teringat pengalaman kita kala itu. Kita bersama di suatu sore musim panas pada tahun-tahun sebelum perang berkecamuk. Suasana saat itu dipenuhi dengan kedamaian dan kehangatan kasih sayang. Aku ingat setiap kata yang keluar dari mulut manismu.

“Jangan pernah meninggalkanku lagi”, bujukmu sambil kedua telapak lenganmu memegang mukaku, “jangan pernah beranjak dari sisiku, sayang”.

Aku seperti kehabisan kata. Hampir-hampir aku tak dapat bicara.

“Aku tidak akan pernah jauh walau sedetik pun darimu, sayangku”, balasku dalam hati. Aku tidak dapat berkata-kata lagi. Sebab aku sadar bahwa kata-kata tak akan sanggup mewakili perasaanku saat itu. Cukup dengan kecupan dikeningmu. Sebuah balasan penuh makna yang mewakili rasa sayangku kepadanya.

Kita berada di tengah lembah cinta yang sedang mengembang. Di temani lembayung senja yang menggantung pada ranting pohon yang kerontang. Menyemburatkan warna merah menerobos cakrawala yang membentang. Berdua ditemani celotehan sumbang burung-burung yang terbang. Berbicara lewat hati tanpa bimbang. Hanya sedikit kata yang terbuang. Sampai tiba malam menjelang. Aku rindu saat-saat itu sayang.

Namun, hidupku kini penuh kehampaan di sini. Kita berjarak ribuan kilometer sekarang. Tak akan ada lagi perjumpaan. Tak akan ada lagi saat-saat indah itu. Walau enggan, tapi aku begitu meyakininya. Malam-malamku kini hanya ditemani oleh malaikat maut yang senantiasa mengintai. Kapanpun ia mau ia dapat menarikku ke dalam kegelapan malam.

Setiap surat yang aku terima darimu, aku selalu merasakan kedamaian di setiap kata-kata yang kamu tulis. Aku yakin bahwa kamu selalu mengharapkan kepulanganku. Agar kita bisa bersanding lagi seperti sedia kala. Aku maklumi itu. Aku pun berharap sama sepertimu. Segera pulang untuk kemudian kembali merajut benang-benang kasih yang sempat kita rajut dahulu.

Sekarang aku serahkan sepenuhnya hidupku pada takdir. Padahal, aku adalah orang yang sangat tidak percaya pada takdir. Bagaimana mau percaya padanya. Sama Tuhan pun aku ragu. Aku bisa mencapai segala sesuatu dengan usahaku. Bukan dengan dan oleh karena Tuhan.

Kegiatanku akhir-akhir ini adalah berperang dengan takdir. Ia lah musuh utamaku kini. Walau kadang-kadang kita akur, dan kadang pula aku menyerah padanya. Untuk kemudian mempercayainya. Sama seperti kini, aku mempercayainya.

Malam-malam di sini begitu menggigit. Aku ceritakan kepadamu bagaimana kondisi tubuhku kini. Begini. Dua ruas jari kelingking kananku hilang. Satu ruas jari telunjukku di tangan yang sama pun lepas bagai puntung. Itu masih mending. Di tangan sebelah kiri lebih sadis. Dua jariku, kelingking dan jari manisku telah habis. Sekarang tinggal ada tiga jari di lengan kiriku. Itupun yang telunjuk kemungkinan besar akan menyusul habis. Dalam hitungan detik ke depan aku rasa. Ujungnya sudah menghitam dan mati rasa. Tinggal menunggu lepas saja. Satu persatu anggota tubuhku hilang dan habis. Itu semua karena terkena ranjau atau sebab gigitan salju yang ganas. Wajar saja jika tulisanku sekarang menjadi tidak sebagus dahulu. Di mana masih lengkap jari-jariku. Aku baru menyadarinya ternyata. Tak tahu apakah masih layak dikatakan tubuh atau puntung.

Aku selalu dan tiada hentinya menghibur diri. Sebab di sini, di tanah yang semuanya kelam tidak ada yang dapat menghiburku selain diriku sendiri. Itu pun harus dengan memaksa hati. Daripada aku harus selalu bersedih. Toh, aku adalah seorang yang tinggal menunggu mati. Seorang yang kini berada di “garis depan“ (Vordersten Front), untuk mati.

 

bersambung…

Posted in: Short Story