Kampus (Belum) Telanjang

Posted on February 18, 2011

2



Dunia kampus, bagi sebagian orang, menjadi salah satu tempat mengadu nasib. Banyak juga orang yang berfikir bahwa kampus dengan segala tetek bengeknya adalah ladang impian yang dapat merealisasikan mimpi-mimpi penghuninya. Bagaimana tidak, dengan kuliah kita akan berhasil. Dengan kuliah kita akan sukses. Dan, dengan kuliah kita akan memiliki taraf hidup yang lebih baik di kemudian hari. Beragam alasan (baca: pembelaan) keluar dari masing-masing pikiran individunya. Persoalannya kemudian, apakah kampus memang ladang impian yang hanya menjanjikan mimpi belaka? Ataukah kampus juga mampu merealisasikan mimpi-mimpi tersebut? Suatu pertanyaan besar dan mungkin butuh perenungan panjang untuk dapat menjawabnya, karena memang fakta empirisnya adalah masih banyak juga yang tidak tahu untuk apa dia kuliah.

 

Ketika seseorang memasuki dunia kampus, statusnya secara otomatis berubah menjadi mahasiswa. Mungkin bisa jadi penamaan ‘mahasiswa’ karena seorang tersebut telah lama menempuh perjalanan pendidikan, sehingga ada penambahan kata ‘maha’ di belakang kata ‘siswa’. Akan tetapi, apapun itu yang jelas ketika seseorang menjadi mahasiswa sebagian besar yang ada pada dirinya berubah, terutama pola pikir. Cara mahasiswa memandang dan menganalisis persoalan berbeda ketika masih menjadi siswa. Tapi, sekali lagi hal tersebut tidak mutlak. Artinya ada sebagian dari mereka juga yang masih berpola pikir kekanak-kanakan. Sejatinya, semuanya tergantung dari individu masing-masing ketika berbicara tentang pola pikir. Mungkin ada benarnya juga, “menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa adalah pilihan”.

Mahasiswa terkenal dengan idealismenya, dengan semangatnya yang berapi-api, juga dengan sebutan agent of change. Namun, sebagai insan yang senantiasa berpikir kita harus skeptis untuk tidak buru-buru percaya dengan hal-hal di atas. Kita akan lihat satu persatu tentang mahasiswa. Pertama, mahasiswa terkenal dengan idealismenya. Tetapi, apakah semua mahasiswa memiliki idealisme? Pertanyaan ini sama seperti pertanyaan awal di atas, butuh waktu lama untuk menjawabnya. Silakan direnungkan.

Kedua, mahasiswa memiliki semangat yang berapi-api. Kita mungkin hafal dengan nama Soe Hok Gie. Seorang mahasiswa dengan semangat yang membara yang sering dituangkan lewat puisi-puisinya yang menggugah, dan terkadang pedas di telinga para birokrat bangsa pada zamannya. Gie mungkin salah satu contoh dari puluhan atau mungkin bahkan ratusan mahasiswa yang berjiwa pemberani dan bersemangat tinggi. Akan tetapi, apakah kita bisa seperti Gie? Ketiga, mahasiswa sebagai agent of change. Mahasiswa adalah agen perubahan. Dengan semangat perubahan tersebutlah yang pada akhirnya dapat menggulingkan rezim orde baru pimpinan Soeharto yang telah berpuluh-puluh tahun bercokol di negeri ini. Lalu, dalam benak saya bertanya, mahasiswa sekarang apakah masih tetap agent of change ataukah agent of exchange? Agen perubahan ataukah agen pertukaran? Lagi-lagi, pertanyaan yang sulit untuk dijawab, dan nampaknya tidak perlu dijawab dalam tulisan ini karena setiap orang boleh berpersepsi di zaman reformasi ini. Setiap orang boleh berbeda sudut pandang dalam menilai persoalan-persoalan di atas. Bukankah katanya kita sudah mahasiswa?

Dunia kampus bukan dunia yang kosong persoalan. Malah, kampus terkadang menjadi ladang persoalan bagi sebagian mahasiswanya. Kampus adalah sebuah cerminan dari kompleksitas sebuah kehidupan mini (miniature of life). Mahasiswa dengan segala dinamikanya seringkali bersinggungan dengan pihak lain. Pihak kampus (birokrat kampus) yang sering menjadi ‘sasaran’ dari membaranya semangat mahasiswa. Orang-orang kampus yang katanya orang-orang dewasa juga terkadang susah untuk terbuka, atau dengan kata lain transparan. Para birokrat kampus terkadang sensitif jika mendengar kata ‘terbuka’ atau ‘transparan’. Jika dahulu Indonesia pernah tabu dengan hal-hal yang terbuka pada zaman orde baru. Lantas, apakah sekarang Indonesia, termasuk di dunia kampus, masih tabu ketika mendengar kata ‘transparan’ pada zaman reformasi yang notabene setiap orang berhak ngomong dan menuntut?