Bak Belati Hukum Negeri

Posted on February 13, 2011

3



Case 1 :

Anehnya adalah seorang narapidana yang notabene seorang yang harusnya mendekam di penjara malah asyik melenggang ke luar negeri. Memang, dia punya duit. Dan, di negeri ini duit bisa berbicara banyak. Duit mampu membeli apapun termasuk hukum. Para aparat penegak hukum dengan mudahnya disuap dan disulap untuk manggut sesuai instruksi Gayus. Sepertinya Gayus adalah seorang superman yang resisten terhadap hukum.

Case 2 :

Menengok sebentar ke kasus lain. Adalah seorang Minah. Seorang nenek lanjut usia asal Banyumas Jawa Tengah yang dituduh mencuri 3 butir kakao. Hanya 3 butir, namun nenek renta ini harus mendekam selama 1 bulan 15 hari di penjara (Lintasberita.com). pastinya Mak Minah hanyalah satu contoh kecil potret buram penegakan supremasi hukum Indonesia. Masih banyak kasus seperti ini yang tentunya tak terekspos oleh media. Ibarat fenomena gunung es, semakin ke bawah semakin besar.

Penegakan supremasi hukum negeri menganut filosofi belati, sebuah bilah besi tipis dan tajam yang bertangkai sebagai alat pengiris dan banyak macam dan namanya (Kamus Besar Bahasa Indonesia: 2003). Hukum memang tajam ke bawah, tapi tumpul ke atas.

3 biji kakao mendekam dalam jeruji, korupsi milyaran bebas melenggang ke luar negeri, Inilah ironi negeri ini.

Bicara soal pemberantasan korupsi, tapi nyata-nyata korupsi masih tumbuh subur. Ngomong komitmen dalam penegakan supremasi hukum malah inkonsisten terhadapnya.

Hukum di Indonesia jelas-jelas menganut filosofi belati, tajam ke bawah tapi tumpul ke atas. Jika sudah seperti ini, mari tunggu kehancuran negeri.