Mati

Posted on February 11, 2011

6



Manusia lahir sebagai pemenang. Ia mengalahkan berjuta yang lainnya. Hanya satu yang terpilih, dan hanya ada satu yang menang. Terlahirlah seorang manusia yang nampak sempurna. Entah di mata siapa kesempurnaan itu terlihat.

Manusia lahir dengan sebuah sumpah. Sumpah kepada Sang Maha Absolut bahwa ia akan mengabdi dan menyembahNya. Semuanya sama dan tiada perbedaan di mataNya. Tiada kasta, jelek baik, cacat utuh, dan lain sebagainya.

Manusia lahir kemudian bernama. Ia tumbuh dan beranjak besar. Mulai dari menangis, tertawa, merangkak, berjalan, berlari, dan kemudian merasa. Ia punya hati maka dari itu ia pun punya rasa.

Manusia lahir dengan dua sisi. Adalah baik buruk pilihannya. Entah kenapa hanya dua sisi tersebut. Kenapa ia harus dihadapkan pada sesuatu yang kalut ketika damai itu nyaman. Kenapa ia harus dihadapkan pada sesuatu yang kelam ketika terang lebih indah. Dan, kenapa pula harus disajikan sedih jika senang itu ada.

Hidup hanyalah pertautan emosi belaka. Salah ucap, laku, dan pikir adalah manusiawi. Itulah kilah manusia, dan itulah kamuflase. Semakin banyak kilah dan alasan, semakin banyak pula pembenaran. Kenapa manusia tidak akui saja bahwa salah itu indah. Bahwa salah adalah sebuah titik balik manusia untuk berpikir dan berlaku kepada sesuatu yang benar. Salah bukanlah dosa.

Manusia dengan raga adalah kamuflase. Jasad adalah fatamorgana. Nampak indah dan manis dengan balutan badan. Ia bangga dengan balutan yang fana. Padahal, dengan yang fana itu manusia serba terkekang dan terbelenggu.

Manusia adalah mahluk yang terkekang. Ia dibungkus jasad yang serba terbatas geraknya. Jasad akan membatasi gerak da laku manusia. Jasad selalu terpentok oleh dimensi ruang dan waktu. Ia tidak mampu menembus dimensi ketika roh masih berada dalam kungkungan jasad.
Manusia adalah mahluk bebas nilai. Ia tidak seharusnya untuk memihak. Ia bebas, lepas, dan terhempas ke dalam alam semesta. Jangan mencoba untuk mengekang ketika kita ingin terbang.

Pada akhirnya, manusia mati. Barangkali itulah secara duniawi. Padahal, hakikatnya adalah bahwa kematian adalah awal kehidupan. Kita belum dapat merasakan kehidupan yang sebenar-benarnya hidup ketika kita belum benar-benar mati. Mati adalah suatu prosesi terlepasnya jiwa dari raga. Bagaimana sejatinya hidup, adalah ketika jiwa ini telah benar-benar lepas dari cangkangnya. Sang Maha Absolut tidak mau ketika kita menghadapNya dengan segala kamuflase. Maka dari itu, cangkang kamuflase harus ditinggalkan. Betapa indahnya bertemu dengan Sang Pembuat Kehidupan.

Maaf, telah memberi dosa kepada kehidupan.