Asketisme Indonesia?

Posted on February 6, 2011

1



Nurcholish Madjid, atau biasa disapa Cak Nur, dalam bukunya ”Indonesia Kita” menerangkan bahwa seorang pemimpin harus dapat bersikap asketis, yaitu self denial (ingkar diri sendiri) dan tidak menikmati reward perjuangan dalam jangka pendek serta menunda kesenangan (to defer the gratification). Dalam sikap asketis tersebut kembali ditegaskan tentang filosofi rebung. Jadilah rebung dan jangan menjadi pisang. Pisang memiliki daun yang lebar sehingga tidak memberikan kesempatan pada anaknya untuk mendapatkan cahaya matahari—yang dibutuhkan untuk dapat hidup. Maka jadilah rebung yang berdaun kecil dan rela bertelanjang badan, sehingga anaknya mendapat sinar matahari yang cukup untuk pertumbuhan serta berselimut tebal.

Menarik untuk dicermati perihal pernyataan di atas, jika kita kaitkan dengan kodisi sekarang yang terjadi di negeri ini. Dari mulai meroketnya harga cabai sampai pada lahirnya seorang SuperGayus manusia pemilik hukum Indonesia. Ibarat sebuah panggung sandiwara, sungguh negeri ini nampak sedang memainkan sebuah drama komedi yang diperankan oleh para dagelan yang siap membuat tawa para penontonnya. Para dagelan tersebut kini tengah bersiap-siap membuat penontonnya tertawa terpingkal-pingkal dengan aksi bodor dan nyleneh-nya. Akan dibawa kemanakah bangsa ini?

Negara dan bangsa yang sejatinya dipenuhi dengan orang-orang cerdas nan serius tiba-tiba berubah menjadi panggung sandiwara komedi yang dipenuhi dengan dagelan-dagelan yang nyleneh.

Pengalihan masalah publik menjadi marak belakangan ini. Publik dibingungkan dengan pemberitaan dari media yang terkadang tidak konsisten. Hari ini media berkata ”tidak”, bisa jadi esoknya media berkata ”ya”. Hari ini berita gayus, besok berita curhatan presiden. Publik seperti disihir untuk mengikuti apa yang media katakan. Namun, pengalihan wacana atau masalah ini tentunya tidak terlepas dari peran pemerintah juga. Dengan alih-alih serta dalih kepentingan pemerintah menutup ”kesalahannya” dengan mengalihkan wacana, salah satu alatnya dengan media. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah reaksi publik seperti demonstrasi.

Mungkin sesaat kita akan teringat akan salah satu tayangan televisi yang memparodikan negara lengkap dengan pemerintahan dan para pejabatnya. Dimana sang aktor mampu membuat penontonnya tertawa sekaligus berpikir. Kritikan yang sejatinya ditujukan kepada pemerintah dikemas dengan banyolan-banyolan yang terkadang pedas di telinga. Setelah terlepas dari belenggu orde baru negeri ini sedikit bisa menghirup udara demokrasi. Keran demokrasi terbuka lebar sehingga siapapun boleh berbicara. Setiap orang bebas untuk mengkritik pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat. Media menjadi salah satu alat penyaluran demokrasi tersebut.

Telah tiba waktunya bangsa ini berkaca dan belajar dari apapun dan siapapun. Negeri ini harus dapat belajar dari pemimpin-pemimpin besar. Negeri ini pun dapat belajar dari pengalaman dan kejadian-kejadian yang telah mewarnai perjalanan bangsa. Bangsa Indonesia sebagai bangsa yang besar yang kaya akan pemimpin-pemimpin serta kenyang dengan pengalaman bukan hal yang sulit dalam mencari referensi untuk belajar. Dengan belajar kita akan bisa menutup segala kekurangan kita. Dengan berkaca kita juga akan mengetahui siapa diri kita yang sebenarnya. Seperti apakah bangsa Indonesia yang sebenarnya.

Bangsa ini sudah banyak dinodai dengan korupsi oleh segelintir orang. Namun, dampaknya dirasakan oleh setiap orang yang hidup di tanah yang maha subur ini. Seperti telah dikatakan oleh Cak Nur, bangsa ini harus memiliki seorang pemimpin yang asketis. Pemimpin yang tidak membanggakan dirinya, yang mengingkari dirinya. Pemimpin yang menunda kesenangan dan bersedia dengan rela tidak bahagia sebelum rakyatnya sejahtera. Pemimpin yang tidak kenyang sebelum rakyatnya kenyang, dan tidak tidur nyenyak sebelum rakyatnya dapat tidur. Bangsa ini juga begitu merindukan pemimpin yang mampu memberikan cahaya bagi rakyat dan generasi setelahnya. Pemimpin yang rela bertelanjang dada kedinginan diguyur hujan dan kepanasan diterpa surya. Memberikan selimut hangatnya untuk sang anak layaknya sebuah rebung. Sekaranglah saat yang tepat untuk belajar dan berkaca. Berkaca tentang diri dan belajar dengan hati.