Situasi Kespro Remaja Jabar Di Ambang Batas Kekhawatiran

Posted on January 28, 2011

3



Pemberian informasi mengenai kesehatan reproduksi masih sangat kurang dan belum tepat sasaran, khususnya untuk remaja. Sosialisasi mengenainya pun masih terkesan pilih-pilih dan belum menyeluruh. Perilaku seksual remaja yang menyimpang menjadi dampak dari kurangnya pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi tersebut. Persoalan kesehatan reproduksi remaja menjadi penting mengingat kesehatan reproduksi remaja akhir-akhir ini telah mencapai titik kulminasinya, pun semakin mengkhawatirkan.

Persoalan kesehatan reproduksi menjadi spesial karena masih banyak kalangan menganggap bahwa pengetahuan mengenai seksualitas masih dianggap tabu. Padahal, perilaku seperti seks bebas, kasus aborsi, dan sampai pada bertambahnya penderita HIV/AIDS menjadi persoalan yang diakibatkan dari kurangnya pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi terutama soal seks. Tertutupnya akses pengetahuan tersebut menyebabkan perilaku menyimpang seksual menjadi semakin tinggi dan telah menjadi fenomena gunung es. Tak heran jika Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia mencapai 307 dari setiap 100.000 kelahiran hidup, dengan Kecamatan Pengalengan Kabupaten Bandung menjadi yang tertinggi se-Asia Tenggara dalam hal AKI (Depkes RI, 2005).

Badan kesehatan dunia (WHO) menyebutkan sekira 15 juta remaja mengalami kehamilan tidak diinginkan (KTD), dimana 60 %-nya berupaya mengakhirinya. Sekira 40-60 juta ibu dari jumlah penghuni dunia yang tidak menginginkan kehamilan tersebut mengambil jalan aborsi, serta sekira 30-50 % diantaranya meninggal akibat komplikasi abortus yang tidak aman. Sedangkan, Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyebutkan bahwa mahasiswa belum menjadi sasaran program kesehatan reproduksi remaja, baik oleh pemerintah maupun kalangan perguruan tinggi. Semakin meningkatnya permasalahan tersebut menjadi PR tersendiri untuk segera diatasi.

Remaja dan Reproduksi

Remaja seperti tidak pernah lepas dari persoalannya. Remaja didefinisikan sebagai masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa yang batasan usianya adalah 12-24 tahun (WHO). Sedangkan estimasi jumlah remaja usia 10-24 tahun di jawa barat tahun 2008 mencapai 11.662.000 orang (MCR, Jawa Barat). Perilaku seksual remaja yang bermasalah serta harus menjadi perhatian adalah seks di luar nikah, seks tidak aman, dan seks berganti-ganti pasangan. MCR-PKBI Jabar tahun 2001-2006 mencatat, sekira 980 remaja melakukan HUS pranikah, 3752 remaja melakukan aktivitas yang mengarah pada HUS, 222 orang remaja mengalami KTD, 17 remaja tertular HIV/AIDS, dan 47 remaja melakukan aborsi. Jawa Barat menjadi salah satu yang tertinggi di Indonesia dalam hal tersebut.

Konsekuensi-konsekuensi seperti, kehamilan di luar nikah (KTD), tertular penyakit menular seksual (PMS), dan HIV/AIDS selama ini tidak diketahui oleh para remaja yang melakukan aktivitas seksual secara aktif. Kebanyakan dari mereka yang melakukan seks secara aktif di luar nikah dikarenakan belum mengetahui dampak perilaku seks tersebut. Mereka beralasan tidak dapat menahan hasrat biologis mereka sehingga memilih jalan untuk melakukan hubungan suami istri (HUS) dengan pasangannya. Simpelnya alasan tersebut adalah indikasi dari adanya kekurangpahaman mengenai seksualitas.

Kesehatan reproduksi (kespro) remaja menjadi cukup serius sepanjang hidup. Departemen Kesehatan Republik Indonesia menyebutkan bahwa elemen-elemen kespro di Indonesia adalah menyangkut keluarga berencana, kesehatan ibu dan anak, penanggulangan infeksi saluran reproduksi dan HIV/AIDS (Depkes RI, 1995). Kesehatan reproduksi bukan hanya menyangkut kehamilan atau yang langsung berkaitan dengan kehamilan. Kesehatan reproduksi mencakup area yang lebih luas, yaitu mengenai hubungan keluarga, pubertas, kebersihan alat reproduksi, gender, seksualitas, keterampilan hidup dan pengambilan keputusan.

Langkah Konkrit Pemecahan Persoalan

Melihat beberapa fenomena tersebut, tidak mengherankan jika ternyata sekarang perkembangan reproduksi berada pada ambang batas yang semakin mengkhawatirkan. Pengetahuan remaja tentang seks dinilai masih sangat kurang. Apalagi jika harus ditambah dengan pemberian informasi yang keliru serta dari sumber yang salah, seperti mitos seputar seks, VCD porno, situs porno di internet, dan lainnya akan membuat pemahaman dan persepsi anak tentang seks menjadi salah pula.

Beberapa cara dalam mengatasinya patut untuk dicoba. Pertama, pemberian pengetahuan tentang kesehatan reproduksi (kespro) masih sangat relevan untuk generasi muda. Pendidikan seks bagi remaja menjadi program yang begitu penting sehingga harus direalisasikan. Tak hanya dari keluarga, tetapi juga pendidikan di sekolah. Karena jika tidak segera diperhatikan, masalah kesehatan reproduksi boleh jadi menjadi masalah yang sangat serius.

Kedua, perlu adanya peninjauan ulang mengenai pendidikan seks dan reproduksi remaja yang telah berjalan sampai sekarang, apakah pendidikan tersebut akan membuat remaja paham untuk tidak mencoba ataukah malah semakin penasaran untuk mencobanya. Terkadang adanya informasi mengenai seksualitas bukan memberikan pelajaran malah menjadikan remaja penasaran untuk mencoba. Hal ini menjadi penting karena usia remaja adalah suatu fase dimana rasa keingintahuan untuk mencoba sangatlah besar. Remaja semakin akan penasaran ketika dikekang. Untuk itu, besarnya minat untuk ingin tahu tersebut harus disertai dengan pengetahuan yang tepat pula.

Harus dingat dan untuk kemudian diluruskan kembali bahwa tujuan dari pendidikan seks ini adalah agar remaja menyadari bahwa pemegang kendali utama tubuh kita berada pada diri kita sendiri bukan pada orang tua, pacar, atau teman dari berbagai paksaan yang menyangkut tubuh dan jiwa kita. Untuk itu, remaja dengan segala dinamikanya diharapkan mampu untuk menemukan formulasi yang tepat untuk memagari diri mereka sendiri sehingga tidak terjerumus dalam pergaulan bebas (sex bebas, alkohol, dan narkotika) yang dapat merusak moralitas bangsa.

Pemimpin bangsa mendatang diharapkan untuk lebih concern terhadap permasalahan kespro ini yang nampak dianak tirikan. Sudah menjadi tugas bersama untuk memberikan pengetahuan yang tepat tentang kesehatan reproduksi dan seksualitas yang masih dianggap tabu tersebut. Kesuksesan sebuah bangsa adalah akumulasi kesuksesan individunya yang salah satunya terletak pada generasi mudanya.