Pak Dirman

Posted on January 26, 2011

0



Jenderal Besar Soedirman…

” … perjuangan kita harus didasarkan pada kesucian,” Pak Dirman dalam pidato pelantikannya menjadi Panglima Besar.

Keteguhan tersebut menjadi salah satu kualitas yang mengundang respek serta kepercayaan dari khalayak kepada pemimpin bangsa yang satu ini. Perjuangan Jendral Besar Soedirman menunjukkan bahwa prinsip, seperti kecintaan pada rakyat, sikap bijak, dan keteguhan hati yang senantiasa dilandaskan pada niat yang suci merupakan landasan penting dalam bertindak.

Lahir di Bodas Karangjati, Rembang, Purbalingga, 24 Januari 1916, Jenderal Sudirman adalah tokoh besar di antara sedikit yang pernah dilahirkan oleh suatu revolusi. Sang Jenderal dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang boleh dibilang sederhana. Ayahnya, Karsid Kartowirodji, adalah pekerja Pabrik Gula Kalibagor, dan ibunya, Siyem, keturunan Wedana Rembang. Sejak umur 8 bulan Sang Jenderal diangkat sebagai anak oleh R. Tjokrosoenaryo, asisten wedana Rembang, yang masih saudara dari Siyem.

Ia seorang guru HIS Muhammadiyah di Cilacap yang juga giat di kepanduan Hizbul Wathan. Pendidikan formalnya diperoleh dari Sekolah Taman Siswa. Sekolah yang dirintis oleh Ki Hajar Dewantara ini terkenal berjiwa nasional yang tinggi serta telah banyak melahirkan pemimpin besar bangsa. Kemudian, Sudirman melanjut ke HIK (sekolah guru) Muhammadiyah, Solo tapi tidak sampai tamat. Kedisiplinan serta jiwa pendidik dan kepanduan tersebut menjadi bekal pribadinya hingga bisa menjadi pemimpin tertinggi Angkatan Perang.

Pendidikan militer diawalinya dengan mengikuti pendidikan tentara Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor. Ia diangkat menjadi Komandan Batalyon di Kroya, setelah selesai pendidikan. Ketika itu, pria yang memiliki sikap tegas ini sering memprotes tindakan tentara Jepang yang berbuat sewenang-wenang terhadap anak buahnya. Tak ayal, suatu kali dirinya pun hampir saja dibunuh oleh tentara Jepang.

Dalam Konferensi TKR tanggal 12 Nopember 1945 Sudirman, yang pada masa pendudukan Jepang menjadi anggota Badan Pengurus Makanan Rakyat dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Keresidenan Banyumas pernah mendirikan koperasi untuk menolong rakyat dari bahaya kelaparan, terpilih menjadi Panglima Besar TKR. Selanjutnya pada tanggal 18 Desember tahun yang sama, pangkat Jenderal diberikan padanya lewat pelantikan Presiden. Pangkat Jenderal yang diperoleh Sudirman bukan melalui Akademi Militer atau pendidikan tinggi lainnya sebagaimana lazimnya, namun karena prestasinya.

Ketika pasukan sekutu datang ke Indonesia dengan alasan untuk melucuti tentara Jepang, ternyata tentara Belanda ikut dibonceng. Karenanya, TKR akhirnya terlibat pertempuran dengan tentara sekutu. Demikianlah pada Desember 1945, pasukan TKR yang dipimpin oleh Sudirman terlibat pertempuran melawan tentara Inggris di Ambarawa. Dan pada tanggal 12 Desember tahun yang sama, Sudirman memimpin serangan serentak terhadap semua kedudukan Inggris. Pertempuran yang berkobar selama lima hari itu akhirnya memaksa pasukan Inggris mundur ke Semarang.

Dalam keadaan sakit dengan ditandu, ia memimpin dan memberi semangat pada prajuritnya untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda, seakan dia sendiri tidak merasakan penyakitnya. Keadaannya sangat lemah akibat paru-parunya yang hanya tingggal satu yang berfungsi. Sekira selama tujuh bulan ia berpindah-pindah dari hutan yang satu ke hutan yang lain, gunung ke gunung sementara obat juga hampir-hampir tidak ada. Itulah sebabnya kenapa ia disebutkan merupakan salah satu tokoh besar yang dilahirkan oleh revolusi negeri ini. Pantas jika Jenderal Sudirman tercatat sebagai Panglima sekaligus Jenderal pertama dan termuda Republik ini.

Pada tangal 29 Januari 1950, Jenderal yang mempunyai jiwa sosial yang tinggi ini, meninggal di Magelang, pada usia yang masih relatif muda, 34 tahun. Panglima Besar ini dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta. Ia dinobatkan sebagai Pahlawan Pembela Kemerdekaan.

Mati jasad tidak berarti mati keteguhan jiwa.
Seorang menjadi besar karena kontribusi besar pula. Sang Jenderal telah memahami bangsa ini secara detail.
Sekali lagi, nasionalisme dan patriotisme.
Akankah ada lagi orang seperti itu…