Biar Sepele Asal Kece

Posted on January 23, 2011

4



 

Menurut Departemen Kehutanan RI, pada awal tahun 1998 hutan alam produksi Indonesia hanya mampu menghasilkan 18 juta m3 kayu bulat. Jika ditambah dengan kayu dari hutan rakyat, HTI, dan hutan konversi (kayu IPK) sebesar 12 juta m3, maka jumlahnya baru mencapai 30 juta m3 (Manurung dan Sukaria, 2011). Jika dibandingkan dengan total kapasitas produksi industri perkayuan Indonesia yang mencapai 68 juta m3 kayu bulat, maka kapasitas produksi tersebut lebih 2 kali lipat dibandingkan dengan kemampuan hutan produksi Indonesia untuk menghasilkan kayu bulat secara lestari (Dephut, 2000). Sangat gamblang terlihat bahwa ada ketimpangan antara kapasitas industri perkayuan dengan kemampuan hutan untuk menyediakan bahan baku secara lestari. Ketimpangan ini jelas linear dengan berkurangnya areal hutan Indonesia. Hal tersebut juga mengindikasikan  bahwa ada eksploitasi secara massif sumberdaya hutan tanpa mau mereboisasi.

Data Rainforest Information Center juga menyebutkan sebanyak 10 – 17 pohon harus ditebang untuk menghasilkan satu ton kertas ukuran koran (atau 8 lembar ukuran kertas A4). Satu ton tersebut cukup untuk mencetak sekira 7.000 eksemplar koran. Industri pulp skala besar, yang kebanyakan didirikan di luar pulau Jawa, bahan baku utamanya adalah kayu bulat yang berasal dari hutan alam (aktivis LSM lingkungan hidup menyebutnya ‘pulping the rain forest’). Pantas saja jika laju deforestasi hutan Indonesia pada periode tahun 1985-1998 tidak kurang dari 1,6 juta hektar per tahun (Dephutbun, 2000). Sungguh tidak sebanding dengan biaya lingkungan (environmental cost) untuk me-recovery-nya

Data-data yang dikeluarkan di atas sungguh mencengangkan. Angka-angka tersebut sudah cukup membuat kita geleng-geleng kepala. Bagaimana tidak? Kerusakan hutan kian parah. Padahal hutan adalah paru-paru dunia. Manusia bisa hidup pun karena ada pohon sebagai penyuplai udaranya.

Generasi Muda (Kita) Bertanggungjawab


Generasi muda adalah generasi penerus bangsa. Soal hutan itu juga soal kita. Sebuah persoalan yang wajib kaum muda selesaikan juga. Persoalan ini bukan hanya tugas generasi tua saja tentunya. Karena persoalan ini juga atas kontribusi generasi muda pula. Apa buktinya kita berkontribusi terhadap kerusakan hutan? Buktinya adalah setiap hari dari kita tidak pernah lepas dari soal kertas. Dari SD, SMP, MA, bahkan sampai perguruan tinggi kita disodori dengan kertas dan kertas. Konsumsi pelajar adalah kertas. Terkadang jika dibayangkan konsumsi kita terhadap pangan (nasi) hampir sama dengan konsumsi kertas. Kita tak bedanya seperti rayap yang terus-terusan menggerogoti kayu.

Apakah ini seringkali kita anggap jadi persoalan? Tentunya tidak semua orang menganggap seperti demikian. Padahal ketika kita menggunakan hasil hutan tanpa mau bertanggungjawab kita sama halnya dengan melakukan illegal loging.

Anak muda seperti kita sudah asing dengan yang namanya reboisasi, lingkungan, dan penghijauan hutan. Ya, barangkali karena laju globalisasi yang kian kencang. Remaja masa kini lebih akrab dengan segala modernitas, pola hidup instant, dan dengan segala tetek bengeknya. Remaja kini seperti sudah hilang ingatan (amnesia) akan lingkungan dan sekitarnya.

Lalu apa peran generasi muda jika sudah seperti itu?

Jika pemerintah punya program 1 man 1 tree, saya juga punya, yakni 3M (Mari Mulai Mendaurulang). Mulai dari menggunakan kertas bolak-balik, mendaur ulang kertas sampah skripsi dan tugas-tugas kuliah, sampai memanfaatkan koran bekas untuk tas, saya lakukan.

  • Kertas bolak-balik. Kelihatannya sepele, tapi berdampak besar. Menggunakan kertas secara bolak-balik dua sisi akan dapat menghemat kertas. Jika satu pelajar satu hari menghabiskan 10 lembar kertas, maka jika digunakan secara bolak-balik satu pelajar satu hari hanya menggunakan setengahnya, yakni lima lembar. Berarti satu pelajar satu bulan hanya menghabiskan 150 lembar—yang seharusnya 300 lembar. Jika dikalkulasikan semuanya jumlah pelajar yang ada di Indonesia yang jumlahnya jutaan orang tentu sudah cukup lumayan untuk menghemat konsumsi kertas negeri.

  • Daur ulang kertas. Skripsi dan tugas-tugas kuliah ataupun sekolah pastinya semuanya menggunakan media kertas sebagai bahannya. Coba bayangkan berapa kilogram bahkan kwintal kertas yang kita habiskan untuk pendidikan. Jika satu orang satu hari memakai 10 lembar kertas dan berat satu lembar kertasnya 80 gram, maka satu orang satu hari punya 800 gram sampah. Satu orang satu bulan punya 24.000 gram(24 kg) sampah. Coba kalkulasikan lagi jika negeri ini punya jutaan pelajar yang tersebar di pelosok negeri. Mencengangkan bukan? Maka dari itu dengan kita mendaur ulang kertas yang sudah tidak terpakai lagi kita akan menyelamatkan lingkungan dari bahaya gunung sampah. Bahannya pun cukup simple, hanya memakai frame bekas foto, kawat kasa, dan air. Kalau kita malas, kita bisa memberikan sampah kertas itu ke orang yang mau menampunya untuk didaur ulang.

  • Memanfaatkan koran bekas.  Saat ini, konsumsi kertas Indonesia tahun 2005 sebesar 5,6 juta ton, artinya butuh sekitar 22,4 juta meter kubik kayu untuk memproduksinya. Penggunaannya beraneka ragam, salah satunya untuk koran. Perbandingan jumlah penduduk dan surat kabar di Indonesia mencapai 1:43, artinya jika jumlah penduduk Indonesia mencapai 207 juta jiwa, jumlah surat kabar mencapai 4,8 juta (Komunitas Minat Baca Indonesia, 1999). Meskipun tergolong rendah—dan yang paling rendah di Asia Tenggara—namun itu sudah cukup menguras hutan kita. Apalagi jika kita menilik lagi ke persoalan sampah koran. Jutaan ton sampah dihasilkan dari koran. Mari mulai memanfaatkan limbah koran. Ternyata kertas koran bisa dibuat menjadi tas jinijing yang tak kalah kerennya dengan tas-tas yang dijual mahal di toko-toko. Saya pun membuatnya. Lumayan, selain gratis karena bahannya mudah didapat juga bis bernilai rupiah.

Saya jadi teringat akan pesan AA Gym tentang 3M, mulai dari sekarang, mulai dari hal-hal yang kini, dan mulai dari diri sendiri. Simple tapi bermakna. Setidaknya itulah yang sudah mulai saya lakukan. Jika bukan kita, siapa lagi yang peduli🙂