King Jr.

Posted on January 19, 2011

1



Marthin Luther King Jr. …
Berita kematiannya yang disiarkan pada malam hari, tanggal 4 April 1968 itu begitu menggemparkan seantero jagat, khususnya Amerika Serikat. Terbunuhnya salah seorang tokoh pergerakan pembela hak-hak sipil warga kulit hitam, yang ditembak mati oleh seorang kulit putih. Adalah James Earl Ray yang kemudian mengaku sebagai pembunuhnya. Begitulah ceritanya.

Gelombang kerusuhan rasial yang dilakukan oleh orang kulit hitam berkecamuk di setiap sudut kota di Amerika Serikat, kecuali Indianapolis. Sebuah keanehan terjadi. Kenapa Indianapolis tetap tenang dan kerusuhan tidak merambah di kota tersebut? Padahal penduduk kota tersebut mayoritas adalah orang kulit hitam dan begitu sering terjadi social class shock.

Robert F. Kennedy, seorang senator kulit putih, dijadwalkan akan berpidato di depan khalayak Indianapolis. Pesawatnya mendarat di Indianapolis pukul 8.30 lewat dari yang dijadwalkan pukul 7.30 malam. Ketika itu, lebih dari 1.000 orang telah memadati lapangan basket itu. Kennedy sampai di tempat tersebut ketika massa mulai panas atas berita itu.

Kennedy bergegas naik ke atas panggung dengan sebelumnya mengambil amplop dari dalam saku jasnya. Ia berpidato di tengah hadirin yang begitu sesak dan bising.

Kennedy mulai membuka pidatonya dengan menyapa hadirin di depannya. Ia berhenti sejenak, meminta agar kamera-kamera diturunkan sedikit. Kennedy pun melanjutkan pidatonya ketika suara-suara sudah mulai merendah.
”Martin Luther King, Jr mempersembahkan hidupnya untuk menegakkan cinta dan keadilan di antara sesama manusia. Ia meninggal untuk missi yang diembannya. Saudara-saudara yang berkulit hitam, yang jelas mengetahui bahwa orang kulit putihlah yang bertanggung jawab, tentu Anda akan dipenuhi kepahitan, kebencian dan keingingan untuk membalas.
Kepada Anda yang berkulit hitam dan dipenuhi kebencian dan ketidakpercayaan pada kezaliman tindakan seperti itu, melawan semua yang berkulit putih, saya hanya dapat menyatakan saya juga merasakan dalam hati saya perasaan yang sama. Ada anggota keluarga saya yang dibunuh, dan ia dibunuh oleh seorang kulit putih. Tetapi kita harus berupaya di Amerika Serikat….”

Kemudian Kennedy menutup pidatonya :
”Puisi yang paling saya gemari, penyair yang paling saya sukai, adalah Aeschylus. Sekali waktu ia menulis, ’Bahkan dalam tidur kita, derita yang tak terlupakan jatuh setetes demi setetes ke dalam hati kita, sehingga dalam keputusasaan yang sangat, bertentangan dengan kehendak kita, muncullah kebijakan melalui rahmat Tuhan yang Agung”.

Menutup pidatonya, Kennedy menyuruh para hadirin untuk pulang. Dan, dalam waktu sekejap mereka pun tersapu bersih. Omongannya bak bius.

Adalah Martin Luther King, Jr., seorang pembawa angin perubahan. Ia memimpin gerakan protes atas Washington pada 28 Agustus 1963, yang tercatat oleh sejarah sebagai salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah perjuangan hak sipil.

Di hadapan lebih dari seperempat juga orang, lelaki kelahiran 15 Januari 1929 ini memulai pidatonya.
“Have a dream,
I shall continue to work for that a dream as long as life it self,
if necessary I shall even die for that dream”

Dipicu oleh peristiwa penangkapan Rosa Parks, seorang perempuan kulit hitam yang menolak ketika diminta memberikan tempat duduk di sebuah bis kepada seorang lelaki kulit putih. Sejarah kembali bergulir.

Karena ego untuk satu warna semua berantakan.
Padahal, dunia ini indah sebab berwarna.
Barangkali ego memang pandang warna.