Hatta

Posted on January 13, 2011

0



Mohammad Hatta…
Hujan air mata seakan mengguyur Jakarta. Mendung nan kelabu menyelimuti wajah negeri. Kala itu, 14 Maret 1980, jiwa sederhana itu telah kembali ke pangkuan-NYA. Bung Hatta, seorang Proklamator Kemerdekaan sekaligus seorang administrator handal negeri ini wafat. Usia 77 tahun menjadi akhir langkahnya.

Wajar saja jika Indonesia berduka. Hatta adalah salah satu orang yang terlibat dalam membangun pondasi bangsa. Tanpa Hatta dahulu, barangkali bangsa ini tidak seperti sekarang. Atau bahkan, belum punya nama seperti sekarang.

Dilahirkan dengan nama Muhammad Athar pada tanggal 12 Agustus 1902 di Bukittinggi. Di kota kecil yang indah ini pulalah Bung Hatta, akrab dipanggil, dibesarkan. Ayahnya, Haji Mohammad Djamil, wafat ketika Hatta beranjak delapan bulan. Anak laki-laki satu-satunya inilah yang nantinya menjadi wakil presiden pertama negeri ini.

Hatta tumbuh menjadi pribadi cerdas dengan tanggung jawab dan disiplin yang tinggi. Dunia pergerakan menjadi pelabuhan berikutnya. Hatta masuk dan menjadi bendahara pada perkumpulan Jong Sumatranen Bond tahun 1916. Kemudian, berlanjut ketika ia masuk ke dalam Indische Vereniging, perkumpulan yang menolak bekerja sama dengan Belanda. Kelompok inilah yang nantinya menjadi cikal bakal Perhimpunan Indonesia (PI).

Beranjak dewasa, ia terbang ke Negeri Belanda, dan menimba ilmu di negeri kincir itu. Ia belajar pada Handels Hoge School di Rotterdam, konsentrasi dalam bidang ekonomi perdagangan (handels economie), dan lulus pada tahun 1923. Semula, ia berniat melanjutkan studi doctoral dalam bidang ekonomi. Namun, minatnya pada bidang politik ternyata lebih besar. Akhirnya, ia pun membiarkan ketertarikannya dalam politik berlanjut. Hatta pun berhasil membereskan studinya di Negeri Belanda pada 1932, dan kembali ke Indonesia.

Sekembalinya dari Belanda, Hatta rajin menulis berbagai artikel politik dan ekonomi untuk Daulat Ra’jat. Pun, melakukan berbagai kegiatan politik, terutama pendidikan kader-kader politik pada Partai Pendidikan Nasional Indonesia. Prinsip non-kooperatif dengan Belanda saat itu selalu ditekankan kepada kader-kadernya. Sempat beberapa kali pula ia di buang dan diasingkan, yakni ke Tanah Merah, Boven Digoel (Papua) dan Bandaneira, karena prinsipnya itu.

Kesempatan itu yang menghantarkannya bertemu dengan Sjahrir, Dr. Tjipto Mangunkusumo dan Mr. Iwa Kusumasumantri. Di Bandaneira, Hatta dan Sjahrir dapat bergaul bebas dengan penduduk setempat dan memberi pelajaran kepada anak-anak setempat dalam bidang sejarah, tatabuku, politik, dan lain-Iain. Setelah itu, ia pun dilempar kembali ke Sukabumi. Petualangannya berakhir ketika pemerintah Belanda menyerahkan kekuasaan kepada Jepang.

Selama masa pendudukan Jepang, lelaki yang menikahi Rahmi Rachim ini, tidak banyak bicara. Namun, pidato yang diucapkannya di Lapangan Ikada tahun 1942 menggemparkan banyak kalangan. Ia mengatakan,
“Indonesia terlepas dari penjajahan imperialisme Belanda. Dan oleh karena itu ia tak ingin menjadi jajahan kembali. Tua dan muda merasakan ini setajam-tajamnya. Bagi pemuda Indonesia, ia Iebih suka melihat Indonesia tenggelam ke dalam lautan daripada mempunyainya sebagai jajahan orang kembali.”

Duet Hatta, pria yang pernah menyamar sebagai kopilot bernama Abdullah ketika bertemu dengan Nehru ,dengan Bung Karno dimulai pada 18 Agustus 1945, ketika ia diangkat menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia. Dwitunggal semu terbentuk dengan itu.

Perihal ketidaksepahaman dengan Sang Presiden secara eksplisit ditegaskan oleh Sukarno. Hatta dan aku tak pernah berada dalam getaran-gelombang yang sama. Begitulah kata Bung Karno. Hatta seorang administrator dan Sukarno seorang kharismatik.

Tapi sudahlah. Apa boleh buat, sejarah sudah seperti itu.
Jelas yang terpenting adalah bahwa, pahlawan adalah roh bangsa. Kepahlawanan sejati bukanlah nama besar, melainkan karya besar. Begitulah seorang pemimpin nan bijak dalam berkehendak.

“Janganlah mencita-cita adanya pemimpin-pahlawan bagi Indonesia, melainkan hendakilah adanya pahlawan-pahlawan yang tak punya nama.” Hatta.