CHE

Posted on January 11, 2011

1



Che Guevara…
“…Aku meyakini perjuangan bersenjata sebagai satu-satunya solusi untuk rakyat yang berjuang membebaskan dirinya, dan aku konsisten dengan keyakinanku.
Banyak orang akan memanggilku avonturir, dan memang demikianlah aku—hanya aku dari jenis yang berbeda, jenis yang mempertaruhkan nyawanya untuk membuktikan kebenarannya”.
“Dengan resiko kelihatan tolol, aku berkata bahwa seorang revolusioner sejati dituntun oleh kecintaan yang besar.
Mustahil seorang revolusioner sejati tidak memilikinya.
Mungkin ini adalah salah satu drama terbesar para pemimpin; ia harus memadukan jiwa yang bergelora dengan nalar yang dingin, dan membuat keputusan yang menyakitkan dengan sangat tenang.
Para revolusioner garda depan kita harus mengagungkan kecintaan pada rakyat ini sebagai alasan yang paling suci, dan membuatnya menjadi satu dan utuh”. Che

Begitulah seorang Che dalam melukiskan perjuangan dengan makna yang sejati. Seorang avonturir yang skeptis dengan perubahan. Bagaimana ia kemudian dituntun oleh kecintaan terhadap tanah air untuk sebuah kebebasan. Kuba yang saat itu bergolak membuatnya harus turun dan sudi untuk berjuang atas nama rakyat dan, sekali lagi, kebebasan.

Lahir pada 14 Juni 1928 di Rosario, Argentina, dengan nama Ernesto Guevara de la Serna, Che tumbuh dalam dekapan keluarga yang liberal dan cenderung radikal. Ia adalah anak pertama dari lima bersaudara dari pasangan Ernesto Guevara Lynch, seorang insinyur sipil, dan Celia de la Serna. Keluarganya adalah keluarga besar dari golongan kelas menengah atas. Pantas, jika ia kemudian mempelajari kedokteran di Universitas Buenos Aires.

Che tumbuh menjadi manusia dewasa yang cerdas. Studinya tersebut diselesaikannya dalam waktu hanya tiga tahun. Kepeduliannya terhadap persoalan sosial pun perlahan muncul. Beberapa moment menjadikan Guevara muda peka terhadap persoalan bangsa. Dimulai saat ia menyaksikan mobilisasi buruh dan pergerakan kaum petani di Bolivia setelah terjadi Revolusi Nasional tahun 1952. Kemudian menjadi moment selanjutnya adalah terjadinya pemerintahan radikal di Guetemala yang dipimpin oleh Jacobo Arbenz, yang digulingkan oleh Castillo Armas yang pada saat itu didukung oleh Amerika pada tahun 1954.

Pada tahun 1954 Che bertemu dengan Fidel Castro di Meksiko untuk kemudian bergabung dengan kelompoknya—yang saat itu tengah berencana melakukan invasi ke Kuba. Pertemuannya dengan Castro tersebut yang pada akhirnya mengantarkannya menjadi Gubernur Bank Nasional pada tahun 1959, dan diangkat kemudian menjadi Menteri Industri pada tahun 1961. Karier politiknya pun mulai menanjak perlahan tapi pasti saat itu.

Rentetan peristiwa tersebut yang setidaknya membentuk pola pikir dan jiwa revolusioner pada diri Che. Pun, kemudian menjadikannya keluar dari Kuba untuk terlibat langsung dalam perjuangan revolusioner internasional. Sebagai contoh, saat ia harus mengembara sampai ke Afrika dan akhirnya turut berperang pada perang di Kongo. Ia lakukan semua itu demi hasrat berperangnya.

Kembalinya ke Bolivia dengan menyamar pada 1966 menjadi pengembaraan terakhirnya. Tujuannya pada saat itu adalah mengorganisasikan kelompok gerilyawan baru yang disebutnya sebagai “duapuluh Vietnam baru”. Sekali lagi, hasrat itu muncul dan semakin menggebu.

Setelah beberapa bulan bergerilya melawan tentara Bolivia, akhirnya ia tertangkap pada 8 Oktober 1967. Ia ditangkap untuk kemudian dihukum mati di Kota Vallegrande atas perintah Presiden Barrientos.

Berakhirlah sudah pengembaraan hasrat berperangnya. Namun, hasrat itu tidak akan pernah padam bagi Che Guevara Che Guevara muda penerusnya.
Saya jadi teringat ketika seorang Che Guevara, seorang revolusioner Kuba, yang dengan tulusnya menyatakan simpatinya terhadap negara-negara di Asia ketika itu. Bagaimana dia yang seorang sosialis menyatakan solidaritasnya untuk Asia dalam melawan kolonialisme dan imperialisme Barat dan Amerika.
Hal itu hanya dapat lahir dari hati seorang nasionalis yang merasa tergugah hatinya untuk menuju ke arah negeri yang lebih baik lagi…