Gandhi

Posted on January 10, 2011

0



Mahatma Gandhi…
Ia lahir sebagai pribadi yang amat sederhana. Seorang besar dengan karya agung yang apa adanya. Seorang yang terciri dengan kain putih yang melilit tubuh tipisnya, serta kaki yang tak beralas. Begitu sederhana.

Pantas saja jika seorang Winston Churchill pernah berkata, “Menyedihkan…melihat ia, seorang pengacara Kuil Tengah yang menghasut, sekarang tampil sebagai seorang fakir yang tipenya umum di Timur, menaiki tangga Istana Viceregal dengan badan setengah-telanjang.”

Ia lah Mohandas Karamchad Gandhi. Terlahir pada 2 Oktober 1869, di Porbandar (sekarang Gujarat), India. Ayahnya adalah perdana menteri di kesultanan tersebut, sementara ibunya seorang Hindu yang sangat relijius. Gandhi hidup di tengah keluarga yang boleh dikatakan tidak miskin.

Tahun 1888 ia pergi ke Inggris untuk belajar ilmu hukum di Universitas College, London. Lulus dari universitas tersebut, Gandhi lantas berangkat ke Durban, Afrika Selatan. Ia bekerja sebagai pembela bagi warga India di kantor pengacara India yang memiliki cabang di sana.

Gelombang apartheid begitu mewarnai Afrika saat itu. Di tempat itu pula, tak sedikit warga India yang dibawa ke Afrika Selatan di akhir abad 19 untuk dipekerjakan di industri gula. Seperti dikejutkan oleh sengatan diskriminasi warna tubuh, Gandhi pun mulai bersimpati. Ia kemudian mengampanyekan hak sipil mereka.

Bukan Gandhi kalau tidak berbeda. Perlawanan pasif menjadi cirinya kemudian. Ia pun berkali-kali keluar masuk penjara dengan kelakuannya tersebut.

Angin segar menerpa Afrika Selatan tahun 1914. Ketika itu, Pemerintah Afrika Selatan, di bawah tekanan pemerintahan Inggris dan India, menerima sebuah paket reformasi yang dinegosiasikan oleh Gandhi dan Jenderal Jan Christian Smuts, pejabat Afrika Selatan. Negeri itu pun diterpa angin perubahan. Selesai sudah karya Gandhi di Afrika.

Setahun setelah itu, hatinya terpanggil oleh tanah kelahirannya. Ia mulai membangun negerinya dengan prinsip-prinsipnya, yakni kebenaran (satya), non-kekerasan (ahimsa), serta cinta produk dalam negeri (swadesi).

Gelombang masa terjadi pada 13 April 1919. ketika itu, Parlemen meloloskan Rowlatt Acts, yakni Undang-Undang yang memberikan kekuasaan darurat kepada pemerintah kolonial India untuk menindak para aktifis revolusioner. Sejumlah 379 nyawa tak bersalah pun meregang diterjang peluru amarah tentara Inggris. Ia memimpin gelombang massa dengan nuansa damai dan anti-kekerasan. Di situlah awal kiprah Gandhi.

Bertahun-tahun tak henti-hentinya Gandhi mengajarkan nilai-nilainya kepada dunia. Ia juga seorang pribadi yang toleran. Ia seorang Hindu namun menyukai pemikiran-pemikiran dari agama-agama lain termasuk Islam dan Kristen. Setiap manusia dari segala agama patut memiliki hak yang sama untuk hidup bersama secara damai di dalam satu negara. Begitu celotehnya.

Pemikirannya tersebut telah menggiringnya kepada akhir perjuangannya. Pada 30 Januari 1948 di New Delhi, ia dibunuh seorang lelaki Hindu yang marah kepada Gandhi gara-gara ia terlalu memihak kepada Muslim katanya.

Pahlawan tanpa tanda jasa. Barangkali itulah Gandhi. Dunia tidak pernah mengakui karya agungnya.tak pernah satu penghargaan pun ia terima, meski ia dinominasikan untuk nobel perdamaian lima kali antara kurun waktu 1937 dan 1948.

Seorang Gandhi mewariskan karya agung kepada dunia.
Tak jadi soal tak dapat penghargaan.
Toh, semesta telah terinspirasi oleh jiwa agungnya.

Gandhi mati.
Namun prinsip-prinsipnya masih menjadi nafas yang senantiasa dinanti.