CH

Posted on January 8, 2011

0



Chairil Anwar…
“Bukan kematian benar yang menusuk kalbu
Keridlaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
Dan duka maha tuan bertahta” Ch

Begitulah cara Chairil menggoreskan kedukaan ketika neneknya meninggal dalam sajak yang sungguh pedih. Sebagian puisi-puisinya selalu merujuk pada kematian. Entah mengapa.

Si Binatang Jalang. Begitulah biasa ia dibilang. Tanggal 26 Juli 1922 di Medan, adalah ruang dan waktu yang menjadi saksi atas lahirnya pelopor Angkatan ’45 dalam kesusastraan modern Indonesia ini. Chairil masuk sekolah Holland Indische school (HIS), sekolah dasar yang cukup mentereng untuk orang-orang pribumi waktu penjajah Belanda. Selepas itu, pendidikannya dilanjutkan di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs, sekolah menengah pertama Belanda. Namun, tak tamat. Ia keluar sebelum lulus. Saat itulah ia mulai untuk menulis sebagai seorang remaja.

Ia dibesarkan dalam keluarga yang cukup berantakan. Ibunya bernama Saleha, yang masih kerabat dekat Sutan Sjahrir, Perdana Menteri pertama Indonesia. Ayahnya, Toeloes, adalah seorang mantan bupati Indragiri Riau. Ibu bapaknya bercerai, dan sang ayah berkawin lagi. Chairil kemudian mengikut ibunya ke Jakarta setelah perceraian itu, selepas SMA. Barangkali karena pecahnya bahtera rumah tangga orang tuanya itu, ia lebih memuja neneknya, ketimbang ibunya. Namun, bukan maksud ia tidak cinta kepada ibunya. Kecintaan kepada sang ibu, ia tunjukkan melalui beberapa puisinya. Pun, di hadapan ibunyalah, acapkali ia kehilangan sisi liarnya.

Keakrabannya dengan kerasnya kehidupan keluarga membentuknya menjadi pribadi yang keras pula. Pantang dikalahkan, baik dalam suatu persaingan, maupun dalam mendapatkan keinginan hatinya, adalah perangainya. Keinginan dan hasrat untuk mendapatkan tersebutlah yang menyebabkan jiwanya selalu meletup-letup, menyala-nyala, dan tidak pernah diam.

Ia tumbuh sebagai pribadi yang cerdas. Pendidikannya tak selesai memang. Namun, bahasa Inggris, bahasa Belanda dan bahasa Jerman ia kuasai. Ia mengisi setiap detik waktunya dengan mengonsumsi buku-buku pengarang internasional ternama, semisal: Rainer M. Rilke, W.H. Auden, Archibald MacLeish, H. Marsman, J. Slaurhoff dan Edgar du Perron. Penulis-penulis ini memberikan kontribusi pada otaknya. Tak heran, jika hasil goresan penanya yang sempat dibukukan seperti, Deru Campur Debu (1949); Kerikil Tajam Yang Terampas dan Yang Putus (1949); dan Tiga Menguak Takdir (1950), (kumpulan puisi dengan Asrul Sani dan Rivai Apin), terpengaruh olehnya.

Wanita adalah dunia Chairil sesudah buku. Nama-nama seperti, Ida, Sri Ayati, Gadis Rasyid, Mirat, dan Roosmeini terrekam sebagai gadis yang dikejar-kejar olehnya. Semua nama gadis itu bahkan masuk ke dalam goresan pena emas Chairil. Namun, pada akhirnya petualangan hatinya bermuara kepada gadis Karawang, Hapsah namanya. Chairil menambatkan hatinya pada gadis itu. Ia pun menikahinya. Namun, karena kesulitan ekonomi dan gaya hidup Chairil yang tak berubah memicu sang istri meminta cerai. Saat anaknya baru berumur 7 bulan, Chairil pun menjadi duda.

Tak lama setelah itu, Chairil menghembuskan nafas terakhirnya, pada 28 April 1949, pukul 15.15 WIB. Ia berakhir dalam gerogotan TBC kronis dan sipilis. Pun, kehidupannya yang semrawut menjadi titik awal persoalnya.

“Sekali berarti, sudah itu mati”
Cukup 27 tahun.
Tapi, singkat usia bukan berarti singkat sumbangsih. Ia telah menjadi pelukis sastra negeri. Mewarnai kesusasteraan Indonesia dengan goresan pena spesial.
Ia telah sungguh-sungguh di dalamnya.
Sikap inilah yang membuat anaknya, Evawani Chairil Anwar, harus meminta maaf saat mengenang kematian ayahnya, di tahun 1999, “Saya minta maaf, karena kini saya hidup di suatu dunia yang bertentangan dengan dunia Chairil Anwar.”