Sang Guru (Part. 4)

Posted on December 29, 2010

0




Di salah satu dinding gribik—dinding yang terbuat dari anyaman bambu, terpampang foto keluarganya. Di ambilnya foto dalam bingkai kayu sederhana yang telah berdebu itu. Ia usap debu yang menempel dengan jari-jarinya yang tak lagi kokoh. Sesekali ia meniupnya, dan debu-debu pun berhamburan. Dipandanginya wajah-wajah dalam gambar yang hanya seukuran lembaran uang seribuan. Ia teringat kenangan 20 tahun lalu. Saat di mana kedua anaknya masih kecil-kecil. Saat di mana keluarganya masih utuh berempat. Tak sadar ia pun meneteskan air mata dari kedua matanya yang sudah tampak keluar dari rongganya yang cekung. Kedua rongga cekung yang 20 tahun lalu masih terlihat tegas, bulat berisi.
Di usianya yang telah senja, 65 tahun, Pak Somad hanya tinggal berdua dengan istrinya, Paijah. Sebenarnya ia memiliki dua orang anak. Satu laki-laki, Paiman, dan satu perempuan, Surtini. Keduanya telah lulus sarjana dan telah menjadi orang yang berhasil. Paiman adalah seorang insinyur di salah satu perusahaan milik asing di Jakarta. Ia tinggal di sana bersama istri dan satu orang bauh hatinya. Sedangkan Surtini hidup dan tinggal bersama suaminya di pinggiran Kota Semarang. Ia adalah seorang bidan desa dengan gaji yang pas-pasan. Rumah yang dibangunnya di Semarang pun hasil dari jerih payahnya selama beberapa tahun. Keduanya hidup bahagia dengan keluarga masing-masing.
Ia rindu kepada keduanya. Rindu akan keutuhan menjadi satu keluarga. Jika boleh meminta, ia pasti akan meminta tetap berkumpul dengan buah hatinya. Tak ingin jauh. Hidup dengan keluarga yang utuh.
“Tapi sudahlah,” bisiknya dalam hati. Semua ini adalah suratan takdir yang harus ia tempuhi. Ia ingin anak-anaknya bersekolah tinggi agar menjadi orang yang berhasil.
“Kalian harus bersekolah tinggi Le, Ndo,” katanya. “Biar jadi orang pinter. Jangan kayak orang tuamu yang cuma taman SR—Sekolah Rakyat”. Begitu dulu petuahnya kepada kedua anaknya. Untuk menjadi guru seperti sekarang Pak Somad juga harus menempuh ujian penyetaraan. Ujian untuk mendapatkan lisensi untuk dapat mengajar.
“Pendidikan adalah gerbang menuju pencerahan. Jalan satu-satunya terowongan kekelaman adalah pendidikan”, menurutnya.
Untuk itu, ia rela menyisihkan sedikit dari gaji bulanannya untuk ditabung. Untuk pendidikan anak-anaknya kelak. Dan sekarang, nampaknya usaha dan impian Pak Somad tak sia-sia. Keduanya telah menjadi orang. Menjadi orang yang berhasil—paling tidak untuk dirinya dan keluarganya. Pak Somad kini tengah menuai hasil jerih payahnya selama puluhan tahun. Namun, di sisi lain, ia pun sedih karena dengan itu ia jauh dari anak-anaknya. Itulah hidup. Hidup adalah ladang pilihan. Apapun yang diambil pasti ada resikonya.
“Hadapi saja, karena di dunia ini tak ada sesuatu yang sia-sia,” pikirnya. Setiap detail adalah bermakna bagi Pak Somad.

bersambung…