Sang Guru (Part. 2)

Posted on December 27, 2010

1




Kecintaannya pada membaca membuatnya mendapat julukan Guru Baca”. Profesinya adalah sebagai guru sekolah dasar negeri di salah satu kota di Jawa Tengah. Menurutnya profesi guru adalah pekerjaan mulia. Pun penuh tantangan. Sang guru bukan hanya mengajar, tapi mendidik lebih tepatnya. Bukan hanya membagikan pengetahuan. Namun juga membagi nilai (value), katanya. Guru akan mulia jika anak didiknya mulia. Sebaliknya, guru akan merasa gagal jika anak didikannya gagal. Begitulah prinsip yang sekarang tetap dipegang teguh olehnya.
Mengenai pendidik ia selalu mengatakan bahwa guru adalah seorang pengabdi. Seorang yang mengabdi pada bangsa, nusa, dan agama. Ia memberikan pengetahuan kepada orang lain. Ia pun tak akan pernah takut kehilangan pengetahuan itu. Sebab semakin banyak berbagi ilmu, maka akan semakin banyak pula ilmu yang akan didapat. Bukannya berkurang malah akan bertambah.
“Sampaikanlah walaupun cuma satu ayat,” begitulah untaian kata-kata yang selalu ia ulang dan ulang saat mengajar. Kalimat suci yang turun dari Tuhan itu tak pernah absent dari mulutnya ketika ia mengajar.
“Semua yang tebagi pasti tidak akan hilang tanpa bekas. Semuanya akan kembali kepada kita ketika kita ikhlas dan tulus atas apa yang diberikan. Termasuk ilmu pengetahuan. Ia akan terus mengalir di dalam diri kita. Semakin deras kita membaginya, maka akan semakin deras pula ia mengaliri jiwa kita. Jangan pernah takut untuk berbagi. Untuk berbagi apapun dan kepada siapapun,” kalimat-kalimat yang senantiasa ia keluarkan dan tanamkan dalam benak setiap anak didiknya. Ya, ia lah “value teacher”. Seorang guru yang penuh nilai.
Suatu pengabdian adalah harga mati buatnya. Sesuatu yang tak dapat dinominalkan. Sesuatu yang penuh arti—dan tentu modal satu-satunya dalam hidup. Ketika ada salah seorang tetangganya yang bertanya tentang harta Pak Somad enteng menjawabnya. Dalam suatu obrolan sore menjelang maghrib.
“Bapak punya harta apa?” selidik Pak Yanto, salah seorang tetangga desanya.
“Pengabdian,” jawabnya enteng tapi sarat makna.
“Maksudmu?” sembari mengernyitkan dahi, semakin penasaran.
“Tak ada yang saya punyai lagi selain itu,” jawabnya sambil melayangkan pandangannya pada semburat cahaya matahari yang mulai menguning.
“Seluruh hidup ini saya abdikan untuk nusa, bangsa, dan agama. Saya telah berpikir, berkarya, dan mengabdi. Semuanya untuk sesama”. Sejenak ia terdiam. Pandangannya beralih pada hamparan sawah yang telah menguning tanda panen segera tiba. Pun, karena tersiram lembayung sore. Ia kemudian melanjutkan kalimatnya.
“Dan, pengabdian adalah modal satu-satunya untuk dapat bermakna untuk seisi alam semesta. Itulah hartaku”. Ia mengakhiri kalimatnya. Keduanya hanya tercenung saling melepaskan pandang pada sore yang kian pekat.

bersambung…