Sang Guru

Posted on December 25, 2010

0




Suara itu semakin memekakkan telinga. Kian menderu bak suara satu sekuadron pesawat jet yang sedang berparade. Menderu kian kencang. Perlahan tapi pasti suara itu mulai mendekat. Gendang telinganya seakan mau pecah. Ia pun sontak berteriak dan bangun dari tidurnya.
Saat itu ketika malam masih sepertiga. Rembulan sabit menggantung pada daun jendela yang tidak sepenuhnya tertutup. Semilir angin sedikit menerbangkan tirai. Terus berkibar seakan melambai bercanda dengan rembulan yang tersipu.
Ia masih terduduk di atas tempat tidurnya yang reot. Kasurnya tak berselimut seprei. Hanya ada dua bantal dan satu guling. Cukup untuk ia dan istrinya. Dilihatnya sang istri yang tertidur pulas. Dipandanginya lekat-lekat pada wajah yang tak lagi segar. Ia tercenung. Entah apa yang terjadi malam itu. Ia pun tak sepenuhnya tahu. Mimpi. Ya, mimpi.
Ia mulai beranjak dari tempat tidurnya. Meringsek menuju ke dapur. Ia haus. Keringat dingin yang seakan membuncah dari tubuhnya belum kering. Kaos oblongnya yang tipis seakan menempel pada kulit keriputnya. Ia masih bersarung. Bukan kebiasaannya tidur memakai sarung. Namun, sebab terlalu capek sehingga tak sempat ia lepas sarung dan langsung tertidur.
Diambilnya gelas yang sedari tadi tergeletak di atas meja makan. Mulai menuangkan air bening dari kendi. Ia duduk saat gelas belum sepenuhnya terisi oleh air. Perlahan telapak kirinya yang memegang gelas terasa dingin oleh air yang dituangnya dari kendi. Seperti tak sanggup menahan luberannya, gelas pun menolak. Memuntahkan air yang tak lagi dapat ditampung. Ia tersadar dan kemudian segera menghentikan tuangan air tangan kanannya.
“Astaghfirullah,” dipegangnya gelas itu erat-erat. Seperti mencengkeram. Jika bisa, gelas itu pasti akan berteriak dan protes karena tercekik oleh tangan berotot Pak Somad. Namun apalah daya. Gelas itu tetap diam tercekik.
Lamunannya terputus oleh dahaga yang meronta. Ia meminum air yang tadi dituangnya. Hanya dua tegukan gelas itu kembali kosong. Ia pun kembali menuangkan air dari dalam kendi.kali ini ia tahu kapasitas si gelas. Menghentikan tuangan tepat pada waktunya. Tap kurang beruntung nasib gelas kedua. Ia tak lagi menyentuhnya dan meminumnya. Sorot mata Pak Somad tertuju pada jam dinding yang kencang berdetak. Lekas ia beranjak dari tempat duduknya ketika tahu bahwa jam telah menunjukkan pukul 03.05 WIB.
Pak Somad menuju ke sumur di belakang gubuk reotnya. Tak pernah lupa ia menjalankan sholat malam. Ketika malam tinggal sepertiga ia selalu terbangun dari tidurnya untuk menunaikan Tahajjud. Pak Somad bangun ketika seiisi kampung masih berselimut.
“Krett..krett..kret..” suara katrol yang seakan meramaikan pagi itu. Ia terus menimba untuk mengisi tempat wudlu yang terbuat dari kaleng cat bekas. Ia melepaskan tali katrol dan mulai membasuh telapaknya.
“Bismillah…”
Tuhan telah membangunkannya malam itu.

bersambung…