Spesialis Vs Generalis

Posted on December 17, 2010

2



Sudah jamak disadari bahwa jurusan ilmu administrasi negara mengajarkan banyak disiplin ilmu. Semua ilmu sosial dipelajari. Malahan ada beberapa ilmu yang katanya milik orang eksakta pun dilahapnya pula. Dengan itu, jurusan itu pun mendapat sebutan sebagai ‘keranjang sampah’. Sebutan ini tentunya bukan suatu sindiran negatif. Melainkan karena memang banyak sekali yang dipelajarinya. Ibarat keranjang yang menampung segala apapun sampah.

Jurusan Ilmu Administrasi Negara seharusnya mendidik dan melahirkan para genius-universal. Manusia-manusia yang pintar bekerja dengan orang lain, juga memahami organisasi dan hubungan kekuasaan, serta punya kepekaan artistik dan imajinasi kreatif. Bukannya malah menelurkan para manusia yang tak kompeten-universal, manusia yang tak tahu menahu sedikitpun dari yang banyak.

Satu kelemahan orang muda berpendidikan jaman sekarang adalah bahwa mereka hanya cukup puas dengan sekadar fasih dalam satu spesialisasi sempit dan menumbuhkan kebencian pada bidang-bidang lain. Manusia-manusia tipe ini yang pada akhirnya menjadi pribadi dengan pikiran picik, yang menganggap bahwa ilmu-ilmu lain yang bukan bidangnya adalah sampah.

Memang, kita selalu dihadapkan pada persimpangan antara ‘mempelajari banyak tapi sempit’ atau ‘mempelajari sedikit tapi luas’. Pilihannya yakni antara menjadi spesialis atau generalis. Peter F. Drucker dalam bukunya “The Effective Executive” menyebutkan satu-satunya definisi ‘generalis’ yang bermakna, adalah seorang spesialis yang dapat mengaitkan bidangnya sendiri dengan jagat pengetahuan. Mungkin sedikit orang memiliki pengetahuan dalam lebih dari beberapa bidang. Namun, itu tak bisa serta merta dikatakan mereka adalah generalis; malahan itu membuat mereka spesialis dalam beberapa bidang. Tak sedikit juga orang yang hanya tahu tentang satu bidang. Namun, ia tak bisa juga sepenuhnya disebut sebagai spesialis. Mereka sejatinya adalah seorang generalis dalam bidangnya sendiri. Inilah yang memunculkan hukum paradoksial, dalam spesialis ada generalis, dalam generalis ada spesialis.

Kemana kita harus berbelok di persimpangan jalan ini? Itulah pilihannya. Pilihan yang tentunya tak mudah, seperti halnya harus memilih mana yang mungkin dipersalahkan; antara sang pengajar atau si anak didik…