Mimpi, Nyali, Ilusi, yang Terbagi, dan Soal Esensi

Posted on December 16, 2010

0




Mimpi adalah nyawa hidup. Orang yang takut bermimpi sama saja dengan takut hidup. Hidup tanpa mimpi seperti hidup tanpa arah tujuan. Semuanya serba realistis. Sedangkan mimpi hanya disebut ilusi. Sebenarnya, manakah yang ilusi? Mimpi atau justru kehidupan ini yang ilusi?
**
Beranilah untuk mengalahkan ketidakberanian. Karena hanya butuh keberanian dan bukan kesempurnaan untuk melakukan sesuatu. Lakukan apa yang kamu takut melakukannya. Begitulah kata seorang Dale Carnegie. Telahkah kita bernyali?
**
Hidup adalah soal mau, dan bukan soal mampu. Tak ada mau tak akan maju. Mereka yang ingin maju harus punya mau. Soal mampu, itu bisa dipacu. Yakini bahwa kemampuan yang kita miliki adalah sama.
**
Kebanyakan dari kita takut kehilangan. Tak sedikit dari kita pun takut dikecewakan oleh kehilangan itu. Seseorang yang takut kehilangan berarti dia tak sadar bahwa dia juga akan dihilangkan kelak. Seorang yang dikecewakan oleh kehilangan adalah seorang yang merasa segalanya dia yang punyai. Padahal kita tak punyai apa-apa. Terlalu jumawa ketika kita bilang bahwa kita dapati segalanya. Terlalu tinggi jika kita merasa pernah memiliki sesuatu yang kita ciptakan. Kembalilah kepada hakekat. Semua yang hadir adalah titipan dari yang Maha Kekal. Tak ada yang kita punyai. Raga dan jiwa adalah titipan-Nya.
Manusia tak pernah mencipta apa-apa. Manusia pun tak pantas untuk takut kehilangan apa-apa. Terhadap titipan yang kini kita pegang, jagalah. Setelahnya, kita serahkan kepada yang Maha Absolut.
**
Manusia-manusia yang berhasil adalah mereka yang dapat memaknai setiap hal yang hadir adalah yang terbaik. Mahluk-mahluk yang sukses adalah ketika ia selalu mensyukuri apa yang ia dapati di setiap detik kehidupan. Bukan nama besar, bukan uang, bukan pula kekuasaan tanda kebahagiaan. Sudahkah kita berpikir seperti itu?
**
Segala yang tak terbagi akan hilang tak berbekas. Berbagilah. Karena kehidupan untuk sesamalah esensi manusia itu hidup.
“Sekali berarti sudah itu mati,” Ch.

Laboratorium Ilmu, Jatinangor 16-12-10

Posted in: Contemplation