GIE

Posted on December 13, 2010

3



Pagi itu 17 Desember 1969, di tanah tertinggi di Pulau Jawa, Gie meregang nyawa. Ia terlelap berkasur butiran pasir Semeru. Jasadnya dingin, sudah rebah berselimut kabut malam. Matanya terkatup rapat, serapat katupan bibirnya yang membiru. Seorang petualang yang selalu tersenyum ketika menghadapi berbagai tekanan itu diam tak bergerak. Ia telah melewati kehidupan yang penuh warna dan sarat makna.

Dilahirkan pada 17 Desember 1942, Gie adalah anak keempat dari lima bersaudara. Bapaknya, Soe Lie Piet, adalah seorang penulis pada zamannya. Ia hidup dalam dekapan keluarga yang sederhana secara nominal, namun tidak dalam hal intelektualnya. Ia seorang intelektual bebas. Waktunya diisi dengan melahap buku-buku tentang politik, sastra, dan filsafat.

Gie adalah seorang pribadi yang tak ingin menjadi manusia massal. Ia memilih sendiri jalannya yang sendiri, terasing dalam kesepian, di saat rekan seperjuangannya larut dalam indahnya kekuasaan. Ia tetap idealis di saat yang lain terpukau oleh kekuasaan. Ia adalah pribadi yang terus terang terhadap kebobrokan negeri saat itu.

Hatinya selalu berontak ketika melihat rakyat terombang-ambing untuk kemudian tercabik oleh kepentingan politik arus atas. Gie tidak sanggup membiarkan rakyat dikepung kegelisahan saat diserang oleh slogan-slogan dan hipokrisi (meminjam bahasanya) elit politik kala itu. Semangatnya begitu menggelinjang ketika melihat kesewenang-wenangan yang semakin menjamur.

Seorang Adnan Buyung Nasution pernah bilang, “Dalam hampir setiap hal atau masalah, ia merupakan batu penguji yang kokoh untuk sikap yang berani dan independent, hati yang bersih dan pikiran yang murni,”. Kritikan-kritikannya lewat tulisan seringkali memecahkan gendang telinga pemerintah.

Rezim bertransisi dari lama kepada yang baru. Namun sama saja, tak jauh beda. Keduanya acapkali memanipulasi kenyataan. Gie yang dulu tidak sepaham dengan PKI dan mendemo Paduka Sukarno untuk lengser, kemudian berbalik simpati kepada PKI, saat sekira 80.000 orang-orang PKI dipenjarakan tanpa diadili dengan fakta oleh rezim orde baru. Ini sewenang-wenang menurutnya. Tak henti ia membilang bahwa pemerintahan kala itu sama dengan yang dilakukan NAZI ketika membantai warga Yahudi.

Penyuka lagu Blowing in The Wind ini percaya bahwa hakekat kehidupan adalah dapat mencintai, dapat iba hati, dan dapat merasai kedukaan. Mengenai aktivitasnya menggauli alam bebas, ia mengatakan,
“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”

Seorang aktivis Mapala UI dengan Nomor Registrasi Anggota “M.007.UI” ini telah membuka sel-sel otak bangsa tentang arti nasionalisme. Ia hadir tepat di saat bangsa tengah didera krisis.

intellectual abortus, begitulah seorang Soe Hok Gie. Seorang intelektual yang mati muda sebelum melakukan lebih banyak karya dari pemikirannya. Ia meninggal sesuai dengan cita-citanya ”…Berbahagialah mereka yang mati muda”.

Gie telah tiada.
Karena sejarah adalah estafet waktu, pasti ia mau untuk menunggu Gie-Gie muda.

Mendaki tak sekadar menuruti ambisi. Lebih dari itu, mendaki adalah aktivitas tentang makna hidup. Ingin mempelajari arti hidup, maka mendakilah.

*Mengenang 41 th kematian seorang intellectual abortus…