Patho-Administrasi

Posted on December 9, 2010

0



“Adek nanti harus ke Bagian A ya. Setelah itu, terus ke Bagian B. Nah, setelah itu Adek tunggu kepastiannya. Paling besok kesini lagi saja ya,”
Itulah hasil dari jerih payahku menelusuri salah satu instansi pemerintah daerah pagi tadi. Setelah berjalan panjang, dengan perut yang hanya diisi oleh 600ml air mineral, secangkir kopi item racikan, dan satu batang rokok kretek, akhirnya kujumpai juga tempat yang dicari.

Dengan langkah gontai, kumasuki ruangan yang nampak berpenghuni. Tujuanku ke situ karena cuma ruangan itu yang ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Satu ruangan dengan satu orang. Yang lainnya? Pada istirahatlah, makanlah, sholatlah—begitulah deretan alasan yang keluar. Dan, aku pun melakukan aktivitas yang sangat-sangat menyebalkan, menunggu.

Detik berganti menjadi menit, dan menit pun bergerak menuju jam. Tak terasa telah berjam-jam aku menunggu di dalam bangunan yang tampak masih baru milik pemerintah daerah. Aktivitas menunggu itu bukannya tanpa alasan. Saat itu aku tengah menunggu untuk wawancara salah seorang pimpinan dalam organisasi tersebut. Dengan berbagai alasan aku pun mendesak untuk dapat menemui salah seorang pimpinan untuk dijadikan informan penelitianku.

Ruangan yang barangkali hanya berukuran 3X5 meter itu diisi oleh beberapa meja dan kursi, satu televisi, dan bertumpuk-tumpuk kertas, dengan satu mahluk penunggunya. Padahal jam telah menunjukkan pukul dua, dan itu berarti jam istirahat telah berlalu sejam tadi.

Aku pun mengisi aktivitas menunggu dengan menonton televisi. Kebetulan saat itu yang terlihat adalah sinetron remaja jaman sekarang, produksi salah satu stasiun televisi kita—yang memang rajin memproduksi sinetron-sinetron model begituan.

Persis seperti iklan salah satu rokok ; satu orang pegawai yang sedang ngecap kertas-kertas, aku yang menunggu dan tengah dipusingkan dengan urusan birokrasi, dengan sajian sinetron remaja jaman sekarang. Bunyi pesan yang disampaikan kurang lebih demikian “Kalau ada yang sulit, kenapa harus mudah?” Lengkap sudah penderitaan hari ini, pikirku.

Sampai pada akhirnya aku memaksa untuk masuk ke salah satu bagian di instansi itu, tanpa sepengetahuan dari sang mahluk penunggu ruangan tempatku menunggu tadi. Aku masuk dan ternyata disambut dengan ramah oleh seorang ibu muda. Dari situ, aku diantar untuk menemui salah seorang pimpinan di instansi itu. Seorang ibu muda yang tengah hamil tua. Ia pun tak kalah ramah dengan ibu yang mengantarkanku tadi. Ia lah orang yang kucari. Seorang yang kemudian kujadikan informan penelitianku.

Tuntas sudah penelusuran panjang hari ini. Penelusuran yang lebih mirip disebut sebagai derita birokrasi.

Kini, aku baru menyadari bahwa ternyata birokrasi tengah sakit. Birokrasi didiagnosa menderita penyakit administrasi (patho-administration).

Posted in: Article, Bureaucrazy