Imaji Nasi

Posted on December 5, 2010

0



Hari demi hari kian susah mata ini untuk terpejami.

Kuhabiskan tiap malamku dengan secangkir kopi dan berbatang kretek pilihan sebagai amunisi. Semoga saja masih ada secercah inspirasi. Aku enggan menyerah oleh manisnya agitasi buaian mimpi. Karena kuyakin jika sepertiga akhir malam adalah ladang isnpirasi. Saat-saat itu adalah saat dimana laju deras imajinasi tak terhenti. Terus dan terus mengalir pasti. Di hari yang sore tadi hujan turun renyai.
Aku pun memulai.

Menulis dan terus menulis sampai otak ini benar-benar puas untuk memuntahkan seluruh imaji. Sampai tak sadar jika mata ini tak lagi setajam pisau belati. Sampai jari-jari ini pun tak sadar jika dingin tengah menggerogoti. Dan, raga perlahan menjadi terkulai. Ah, aku tak terlampau peduli.
Semoga semua itu dapat menjadi berarti dengan ku berbagi.

Tak begitu luas ruang yang kutempati ini. Hanya berisi barang-barang hasil globalisasi–yang atas nama peradaban telah menjadi terdistorsi. Tak banyak, hanya beberapa biji. Tapi, entah kenapa menjadi begitu bertendensi.

Hangatnya kopi kini telah lari. Kretekku pun hanya tiggal hitungan jari. Tapi, bagaimana aku harus menyudahi, sedangkan jari-jari kecilku ini belum mau berhenti menari-nari.
Baiklah, mari kita lanjutkan sang jari.

Hanya tinggal dingin yang menghinggapi. Namun, imajinasi kian deras mengaliri seluruh nadi. Otak, mata, jari, imajinasi, kopi, kretek, ayo kita berkoalisi. Tumpahkan seluruh isi hati di dalam sempitnya dimensi.

Tapi…Terasa masih kurang satu amunisi. Sebentar, kuingat-ingat biar semakin lengkap koalisi ini. Ah, iya NASI. Aku baru teringat kalau perut ini belum terisi oleh nasi semenjak sore tadi.
Maaf kawan tak jadi kulanjuti. Karena terus terang aku tak bisa terus berlari sebelum nasi dapat ku akuisisi.
🙂
Laboratorium Ilmu, 20-03-10

Posted in: Contemplation