Vordersten Front

Posted on November 28, 2010

0



Belakangan malam-malam di sini begitu menggigit. Dinginnya begitu bengis. Tak kenal ampun ia terus menggerogoti, terutama imajinasi.

Aku ceritakan kepadamu bagaimana kondisi tubuhku kini. Begini. Satu ruas jari manis kaki dan lengan kiriku hilang. Dua ruas jari kelingkingku di telapak tangan dan kaki yang sama pun lepas bak puntung. Tapi itu masih mending. Di lengan dan kaki sebelah kanan lebih sadis. Pada lengan, dua jariku, ibu jari dan jari manisku telah habis. Sekarang tinggal ada tiga jari di lengan kananku. Itupun yang telunjuk kemungkinan besar akan menyusul raib. Dalam hitungan detik ke depan aku rasa. Ujung jari kelingking kaki kananku sudah menghitam dan mati rasa. Tinggal menunggu lepas saja. Satu persatu anggota gerakku hilang dan habis.

Wajar saja jika tulisanku sekarang menjadi tidak sebagus dahulu. Di mana masih lengkap jari-jariku. Aku baru menyadarinya seperti itu. Tak tahu apakah masih layak dikatakan tulisan ataukah hanya sampah kata-kata tak baku.

Maklum saja, aku lumpuh. Aku tak lagi bisa berjalan menikmati Lembah Kidang mengembang. Dengan itu pula, aku tak lagi dapat menyaksikan lembayung senja yang menggantung pada ranting pohon yang kerontang. Aku tak lagi mampu menemani celotehan sumbang burung-burung terbang. Aku tak lagi sanggup berbicara lewat hati tanpa bimbang. Aku tak lagi kuat menjadi saksi malam menjelang di puncakmu, Welirang.

Ah, semuanya telah terbuang sayang. Sebab badai dan gigitan dingin alam yang ganas mengenai kaki dan lenganku.

Tapi, sudahlah. Toh, aku adalah seorang yang tinggal menunggu mati. Seorang yang kini berada di Vordersten Front—garis terdepan—untuk mati.

Gn. Welirang 3156 MDPL, Tretes, 02-05-2010