Konon, pada sekira 400-500 SM, Hippocrates dan Aristoteles sudah memikirkan tentang bagaimana cara untuk meluruskan gigi dan memperbaiki berbagai kondisi gigi. Sementara itu, prekursor dari Roma telah mengubur mayat mereka dengan peralatan yang digunakan untuk mencegah tanggalnya gigi semasa hidup. Hingga kemudian para peneliti menemukan kawat ligatur yang pertama kali didokumentasikan pada sebuah makam Romawi di Mesir (Kaskus; Sejarah Perkembangan Kawat Gigi).
Memang, kawat gigi atau biasa dikenal dengan behel (dental braces) adalah salah satu alat yang digunakan untuk meratakan gigi (Ensiklopedia Bebas). Behel termasuk ke dalam salah satu jenis perawatan ortodonti, yakni pengobatan yang ditujukan untuk mengoreksi letak gigi yang tidak beraturan atau menyesuaikan rahang atas dan bawah. Idealnya benda yang satu ini dipasang jika gigi tidak sehat, seperti bertumpuk, tidak lurus, tidak rata, atau gigi dengan rahang yang tidak normal.
Begitulah menurut ilmu medis soal fungsi sejati kawat gigi. Bahwa kemudian benda ini teralihfungsikan menjadi alat kecantikan dan gaya hidup (life style), terutama di kalangan muda-mudi perkotaan, saya juga kurang begitu paham. Barangkali ini adalah soal persepsi yang lagi-lagi serba relatif. Konstruksi pemikiran yang dibangun di masyarakat adalah bahwa seorang yang cantik atau rupawan adalah mereka yang memiliki gigi rata dan proporsional.
Kawat gigi adalah pemanis wajah. Memiliki gigi yang tidak maju (tonggos), tidak terlalu besar, atau terlalu kecil dengan segala aksesoris yang menghiasinya adalah cantik. Kita akan malu jika punya gigi yang tidak rapi, sehingga menjadi tidak cantik dan rupawan lagi. Barangkali jika satu persepsi yang dibangun adalah sebaliknya, bahwa yang tonggos adalah yang cantik dan rupawan, behel tidak akan mendapat banyak pengikut seperti sekarang.
Lalu bagaimana dengan life style muda-mudi masa kini? Satu lagi, selain aksesoris/alat kecantikan, kawat gigi juga adalah sebuah gaya hidup bahkan fesyen. Bukan remaja masa kini jika tidak memakai behel. Jangan mengaku-ngaku sebagai remaja urban kalo gak memagari giginya dengan kawat. Inilah budaya latah yang sungguh salah kaprah. Behel tidak lagi dipakai untuk orang yang tidak sehat giginya, lebih dari itu ia dipakai oleh remaja masa kini yang macho, cool, gaya, seksi, dan something. Lagi-lagi soal konstruksi persepsi.
Barangkali, jika Bung Karno masih ada, benda itu sudah dapat dipastikan dilarang dipakai. Bung Karno, pada zamannya, pernah melarang hadirnya musik genjrang-genjreng ala Inggris yang waktu itu dipopulerkan oleh Beatles. Ketika seantero jagat terserang ‘Beatles Fever’, Sang Pemimpin ini dengan tegas melarangnya berkembang di Indonesia. Muda-mudi yang sudah kadung terjangkit demam ini langsung divaksinasi. Media massa yang ikut latah menyebarkan virus ini juga tak luput dari pemberangusan. Inilah ketegasan soal prinsip.










Firdaus Ghozali
March 1, 2012
sipp. “Lagi-lagi soal konstruksi persepsi”. Ayo om, dekonstruksi saja persepsi itu, lalu rekonstruksi lagi bahwa orang tonggos adalah seksi…:D
nurediyanto
March 1, 2012
hidup ini tak bisa dilepaskan dr konstruksi persepsi dan pemikiran. tinggal butuh kebijaksanaan dr kita dlm berpersepsi&berpikir, jika sudah seperti itu
Jelajah Nesia
March 4, 2012
Berbagi Kisah, Informasi dan Foto
Tentang Indahnya Indonesia
http://www.jelajah-nesia.blogspot.com
eria
March 4, 2012
bener bgt soal behel jd lifestyle…
agk2 gmn gt klo liat orang pke behel cm buat gaya2an…
dondon
March 5, 2012
logic: behel dipake untuk benerin posisi gigi, kalo udh bener dilepas
un-logic: behel dipake bwt gaya2an… merasa gak cool kalo gak pake behel.
jaman sekarang banyak orang yg g pake logic (baca: otak) pada saat berpikir…
nurediyanto
March 5, 2012
dondon&eria: alasan saya nulis ini jg dlatarbelakangi dari kondisi kini. saya muda dan saya hidup di tengah muda-mudi. banyak sebetulnya yang alih fungsi skrg. contoh kecilnya ya ini behel.
salam kenal semuanya